Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (Yoh 1:1-5)

Jumat, 18 Maret 2011

Perumpamaan Tentang Hakim yang Tak Benar

Lukas 18:1-8


1              Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan,
                bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2              Kata-Nya:
                                "Dalam sebuah kota ada seorang hakim
                                yang tidak takut akan Allah
                                dan tidak menghormati seorang pun.
3                              Dan di kota itu ada seorang janda
                                yang selalu datang kepada hakim itu
                                dan berkata:
                                Belalah hakku terhadap lawanku.
4                              Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.
                                Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya:
                                Walaupun aku tidak takut akan Allah
                                dan tidak menghormati seorang pun,
5                              namun karena janda ini menyusahkan aku,
                                baiklah aku membenarkan dia,
                                supaya jangan terus saja ia datang
                                dan akhirnya menyerang aku."
6              Kata Tuhan:
                                "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
7                              Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya
                                yang siang malam berseru kepada-Nya?
                                Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
8                              Aku berkata kepadamu:
                                Ia akan segera membenarkan mereka.
                                Akan tetapi,
                                jika Anak Manusia itu datang,
                                adakah Ia mendapati iman di bumi?"


Di dalam Luk 18:1-8 disampaikan sebuah perumpamaan sebagai bahan pemikiran bagi para murid mengapa dan dalam arti apa perlu "selalu" dan "tanpa jemu-jemu"-nya berdoa. Perumpamaan ini berbicara mengenai seorang hakim yang "tak takut akan Allah dan tak menghormati siapapun" tetapi yang akhirnya bersedia memenuhi permohonan seorang janda agar perkara janda itu dibela olehnya. Hal itu dilakukannya agar tidak lagi terganggu oleh permintaan yang terus-menerus dari pihak janda tadi (ayat 1-5). Murid-murid diminta memikirkan yang dikatakan hakim yang tak adil itu (ayat 6 "Perhatikanlah...!" merujuk ke ayat 5). Kemudian ditegaskan, bila hakim seperti itu saja akhirnya mau mendengarkan permohonan yang terus-menerus disampaikan, apalagi Allah. Dia yang Mahamurah itu tentunya akan membela orang-orang yang mendekat kepadaNya - dalam bahasa Kitab Suci, orang-orang pilihanNya. Lagipula Ia tidak akan seperti membiarkan orang menunggu-nunggu, melainkan akan segera bertindak (ayat 7-8a). Jelas kiranya perumpamaan itu juga dimaksud menggambarkan kemurahan ilahi.

PERMINTAAN DALAM IMAN

Pada akhir petikan ini (ayat 8b) Yesus menambahkan, "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah ia akan mendapati iman di bumi?" Apakah maksud perkataan ini sehubungan dengan perumpamaan di atas?

Pertanyaan Yesus itu juga erat kaitannya dengan peristiwa kedatangan Kerajaan Allah yang dibicarakan dalam Luk 17:20-37 yang mendahului petikan ini. Ditandaskan di situ bahwa Kerajaan Allah datang "tanpa tanda-tanda lahiriah", maksudnya tanpa tanda-tanda yang menggetarkan. Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah manusia (Luk 17:21) dan terjadi dalam kehadiran Yesus yang membawakan warta datangnya Kerajaan Allah di tengah-tengah umat manusia. Menerima warta ini berarti percaya, mengimani bahwa Kerajaan Allah menjadi ruang hidup yang baru. Ruang hidup inilah yang membuat orang-orang yang berlindung kepada Allah boleh merasa aman. Mereka itu menjadi orang-orang pilihanNya. Allah tidak mengulur-ulur waktu bila mereka berseru minta pertolongan. Mustahil Ia mendiamkan mereka yang siang-malam berseru kepadaNya. Sikap memohon dengan tak kenal putus asa itu ditampilkan sebagai sikap yang tumbuh dalam diri orang yang beriman. Bila dipadukan dengan keinginan untuk ikut serta dalam warta dibawakan Yesus sang Anak Manusia yang diutus Allah itu, maka doa ini amat besar kekuatannya. Seperti dalam Perjanjian Lama, Allah melihat penderitaan umatNya yang berseru kepadaNya dan Ia turun untuk memimpin mereka keluar dari penderitaan mereka (bdk. Kel 3:7-10; 6:5-7).

AJARAN AGAR TETAP MEMOHON?

Mengapa Yesus menegaskan perlunya berdoa tanpa jemu-jemu? Bukankah para murid sudah tahu? Bukankah mereka juga sudah cukup yakin bahwa Allah tidak akan melalaikan orang yang berseru kepadaNya? Perumpamaan ini sebaiknya juga didalami dengan cara yang mirip dengan yang dipakai dalam memahami kata-kata Yesus dalam Luk 17:6 yang menanggapi permintaan para murid agar iman mereka ditambah. Para murid sudah tahu bahwa iman itu memiliki kekuatan, justru karena itulah mereka minta tambahan iman. Dalam ulasan mengenai petikan itu dijelaskan bahwa Yesus sebenarnya bermaksud mengajak para murid menyadari bahwa iman bukan semata-mata kekuatan batin yang menakjubkan melainkan kesediaan menjalankan kehendak Bapa dengan penuh pengabdian seperti dilakukannya sendiri. Gagasan ini jelas dari pengajaran mengenai sikap seorang hamba dalam Luk 17:7-10. Begitu pula perumpamaan dalam Luk 18:1-8 sebaiknya dilihat bukan sebagai ajaran mengenai perlunya berdoa tanpa jemu-jemunya melainkan sebagai ajakan bagi para murid agar melandaskan doa mereka pada iman yang sesungguhnya, yakni kesiagaan serta pengabdian kepada kehendak Bapa.

Kisah kesembuhan sepuluh orang kusta Luk 17:11-19 juga dapat membantu. Dari sepuluh orang yang sembuh itu hanya orang Samaria sajalah yang kembali kepada Yesus sambil meluhurkan Allah. Ia mengenali Yesus yang sedang berjalan memenuhi kehendak Bapanya menjadikan Kerajaan Allah sebuah kenyataan di bumi ini. Orang Samaria tadi sebenarnya berbagi iman dengan Yesus sendiri. Baginya Anak Manusia yang disebut dalam Luk 18:8b telah datang dan mendapatinya penuh iman.

Bagaimana dengan kata-kata Yesus setelah mengajarkan doa Bapa Kami mengenai orang yang malam hari datang membangunkan sahabatnya dan tanpa malu-malu minta dipinjami tiga potong roti bagi tamunya (Luk 11:5-8, bdk. Mat 7:7-11)? Orang itu akhirnya dibukai pintu juga. Di situ diajarkan agar orang tanpa sungkan-sungkan memohon kepada Bapa yang ada di surga. Sikap demikian itu juga menjadi ungkapan iman.

MENARIK HIKMAT DARI KEHIDUPAN

Perumpamaan mengenai hakim yang tak adil ini mengingatkan pada perumpamaan mengenai bendahara yang tak jujur dalam Luk 16:1-9. Kedua tokoh itu ditampilkan sebagai orang yang wataknya tak lurus tapi dalam keadaan tertentu dapat menjalankan hal yang pada dirinya sendiri patut dipuji. Bendahara yang tak jujur itu dapat berlaku cerdik dan dengan demikian dapat menyelamatkan diri. Begitulah bendahara itu berhasil mengatasi keadaannya yang gawat. Anak-anak terang dapat belajar dari kesigapannya. Hakim yang akhirnya mau membela si janda dapat menjadi batu loncatan untuk mengerti kemurahan Allah. Demikianlah Yesus sang Guru itu berani memakai bahan dari kehidupan yang penuh liku-liku dan yang sering kelabu itu untuk menarik garis yang lurus dan terang. Tokoh-tokoh kompleks itu ada dalam kehidupan nyata. Kebijaksanaan seorang Guru seperti Yesus itu terletak dalam kemampuannya melihat sisi yang membawa orang dapat maju ke depan, bukan yang membuat orang menyerah dan putus harapan. Tersirat di dalam perumpamaan-perumpamaan itu ajakan untuk belajar menarik hikmat dari kenyataan hidup sehari-hari. Sekaligus diajarkan agar murid-murid tidak membiasakan diri berpikir dalam arah-arah yang sudah mapan belaka. Kebiasaan seperti itu sebenarnya hanya memberi rasa aman yang semu, bukan iman yang hidup.

MENUJU KE MASA DEPAN - DENGAN IMAN

MAR: Iman yang diharapkan ada di muka bumi bila Anak Manusia datang (Luk 18:8b)
           ialah iman yang dalam cara bicara orang zaman ini proaktif sifatnya, bukan reaktif
           atau bahkan pasif melulu.
WID:  Benar. Iman bukan semata-mata keteguhan yang muncul untuk membenarkan atau
           menyalahkannya keadaan?
MAR: Warta Injil dapat juga diperdengarkan bagi keadaan sekarang. Bagaimana sikap
           orang yang mengimani hadirnya Kerajaan Allah yang diumumkan oleh Yesus?
WID:  Tentunya ia akan berusaha melihat arah-arah yang membawa ke perkembangan.
MAR: Saya rasa, ini dapat terjadi dengan secara proaktif berbuat menurut arah-arah tadi
           tanpa membiarkan diri dikeruhkan kecemasan atau impian ini atau itu belaka.
WID:  Nah begitu kan! Usaha ini bisa membuahkan perbaikan, lagipula tak bergantung
           pada keadaan sesaat-sesaat. Ini namanya mengaktualkan warta Injil.
MAR: Jadi apa benar bila dikatakan keberanian iman itu perlu dibarengi perhitungan.
WID:  Itu justru yang mematangkan iman.
MAR: Dan nanti pihak-pihak yang tadinya tidak banyak memikirkan pun akan ikut
           memperhitungkan?
WID:  Itu baru terjadi bila appealnya ke penalaran!
MAR: ???
WID:  Ingat apa yang dikatakan "dalam hati" oleh hakim tak adil tadi (Luk 18:4) -
           dan juga oleh bendahara yang tak jujur (Luk 16:3-4)? Bila memakai perhitungan
           nalar - "dalam hati" - mereka yang tidak termasuk kaum lurus itu pun dapat
           mengatasi keterbatasan mereka sendiri.
MAR: Kok tafsirnya sedemikian realistik.
WID: Tafsir kan tak usah mengawang-awang. Masa depan juga tidak terbangun di
          awang-awang sana. Perlu dititi dengan yang nyata-nyata dijalani.

Salam hangat,

A. Gianto

Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ

Yesus dan Hukum Taurat

Matius 5:17-37

17           "Janganlah kamu menyangka,
                bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi.
                Aku datang bukan untuk meniadakannya,
                melainkan untuk menggenapinya.
18           Karena Aku berkata kepadamu:
                Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini,
                satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,
                sebelum semuanya terjadi.
19           Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat
                sekalipun yang paling kecil,
                dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
                ia akan menduduki tempat yang paling rendah
                di dalam Kerajaan Sorga;
                tetapi siapa yang melakukan
                dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat,
                ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
20           Maka Aku berkata kepadamu:
                Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar
                dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
                sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
21           Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
                Jangan membunuh;
                siapa yang membunuh harus dihukum.
22           Tetapi Aku berkata kepadamu:
                Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum;
                siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir!
                harus dihadapkan ke Mahkamah Agama
                dan siapa yang berkata: Jahil!
                harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
23           Sebab itu,
                jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah
                dan engkau teringat akan sesuatu
                yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
24           tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu
                dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu,
                lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
25           Segeralah berdamai dengan lawanmu
                selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan,
                supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim
                dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya
                dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
26           Aku berkata kepadamu:
                Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana,
                sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
27           Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28           Tetapi Aku berkata kepadamu:
                Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya,
                sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
29           Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau,
                cungkillah dan buanglah itu,
                karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa,
                dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
30           Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau,
                penggallah dan buanglah itu,
                karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa
                dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
31           Telah difirmankan juga:
                Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
32           Tetapi Aku berkata kepadamu:
                Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah,
                ia menjadikan isterinya berzinah;
                dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan,
                ia berbuat zinah.
33           Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita:
                Jangan bersumpah palsu,
                melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34           Tetapi Aku berkata kepadamu:
                Janganlah sekali-kali bersumpah,
                baik demi langit,
                karena langit adalah takhta Allah,
35           maupun demi bumi,
                karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya,
                ataupun demi Yerusalem,
                karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
36           janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu,
                karena engkau tidak berkuasa memutihkan
                atau menghitamkan sehelai rambut pun.
37           Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya,
                jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.
                Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.


API NERAKA, ZINAH BATIN, CUKIL MATA, POTONG TANGAN?

Bacaan Injil hari Minggu IV/A (Mat 5:17-37) dan hari Minggu selanjutnya (Mat 5:38-48) mengungkapkan beberapa pokok pengajaran Yesus yang nadanya keras. Juga terdengar keras bagi pendengar yang paham ajaran Taurat. Terdengar beberapa kali Yesus menegaskan, "Kamu telah mendengar yang difirmankan.....,  tetapi aku  berkata kepadamu...." (ay. 21-22.; 27-28; 31-32; 32-33 38-39; 43-44). Seakan-akan hukum Taurat belum cukup. Bahkan diancamkan olehnya api neraka, diungkapkan kecaman mengenai zinah batin, ada anjuran cukil mata, potong tangan segala. Tokoh Yesus di sini amat berbeda dengan gambaran tokoh yang lemah lembut, penuh pengertian, mau membebaskan orang dari kungkungan ajaran hukum belaka. Bagaimana Injil kali ini bisa dijelaskan bagi pendegar lain di zaman lain?

APA ARTI "MENGGENAPKAN " TAURAT?"

Bagi orang Yahudi, Taurat adalah pengajaran, hukum-hukum, aturan yang terdapat dalam kelima kitab pertama dalam Alkitab. Jumlahnya, bila dihitung, ada 613 hukum, 365 di antaranya sifatnya larangan, sedangkan 248 sisanya berujud keharusan ini atau itu. Masalahnya bagaimana menghayatinya dengan sebaik-baiknya. Ada dua arah. Pertama ialah berusaha memenuhi yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang dengan seteliti-telitinya. Ini hidup saleh yang dijalankan oleh banyak orang beragama di zaman Yesus. Kehidupan beragama dalam arah ini diukur dengan hukum. Sering orang terpancang pada gagasan apa sudah betul menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Hukum dipandang sebagai hukum. Arah kedua ialah menerima Taurat dan mempercayainya sebagai cara mendengarkan Dia yang bersabda kepada manusia dan mendalami jiwa Taurat. Kedua arah ini bukanlah bertentangan satu sama lain. Boleh dikata, keduanya adalah kutub menjalani Taurat. Satu ketika orang bisa jadi lebih dekat ke yang satu, di lain ketika lebih ke arah yang lain. Inilah dinamika hidup beragama. Inilah yang memperkaya kehidupan beragama.

Yesus mengatakan dirinya datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. Ia menerima kedua kutub itu. "Bukan meniadakan" tentunya bukan mengurungkan Taurat dalam pengertian satu persatu di atas. Ia samasekali tidak menyangkal kesahihan sikap orang menerima Taurat dalam cara itu. Kesalehan ini wajar. Tapi sekaligus ditegaskannya bahwa ia datang untuk memenuhi Taurat. Inilah sisi kedua tadi. Taurat dihayatinya sebagai yang membuatnya dekat pada Dia yang bersabda dengan Taurat. Orang seperti ini menggenapkan Taurat, membuatnya tampil utuh, bukan sebagai himpunan aturan, perintah, larangan belaka. Begitulah maka menjadi lebih jelas yang dimaksud dalam Mat 5:19: "...siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Surga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi dalam Kerajaan Surga."

Kedua arah menghayati Taurat sama-sama membawa orang masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun arah yang kedualah yang membuat orang besar di dalamnya. Besar berarti leluasa, tidak ada kesesakan. Kecil dalam Kerajaan Allah lawan dari itu, mudah merasa sesak, kurang merdeka, tidak leluasa. Meniadakan salah satu perintah hukum Taurat berarti menjalankan Taurat sebagai rangkaian hukum, aturan, pengajaran yang dicoba diikuti satu persatu, seperti memenuhi daftar agenda

CONTOH-CONTOH

Yang diajarkan Yesus kepada murid-muridnya ialah menempuh arah kedua, tanpa mengecam arah pertama walaupun mengenali keterbatasan arah pertama tadi. Diberikannya 6 contoh mengenai bagaimana memandang Taurat dalam arah kedua. Berikut ini akan diulas empat contoh pertama yang termasuk bacaan Injil Minggu ini; Minggu berikutnya membicarakan kedua contoh lainnya: contoh kelima (5:38-39) berkisar pada pembalasan. Kel 21:24, Im 24:20 dan Ul 19:21; contoh keenam (5:43-44) membicarakan perintah mengasihi sesama dan membenci musuh dalam Im 19:18.

Marilah diteliti bagaimana contoh-contoh tadi menunjukkan dua arah Taurat. Contoh pertama (5:21-26) menyangkut larangan membunuh yang tertera dalam Kel 20:13 dan juga Ul 5:17. Larangan ini memang penting dan ditujukan untuk melindungi kehidupan. Yesus mengatakan siapa yang marah, mesti dihukum; yang mencaci-maki mesti diadili, siapa yang mengumpat bodoh harus diserahkan ke dalam api neraka. Bagaimana memahami maksudnya? Bukan dengan menaruh yang dikatakan Yesus sebagai aturan yang menambah beratnya Taurat. Yang dikemukakannya ialah hidup baik dengan sesama, menghormati perbedaan yang sering tidak menyenangkan. Inilah yang amat berharga. Menyalahi sesama dalam hal tidak menghormati diungkapkan sebagai yang patut dihukum berat.

Begitu pula dalam contoh kedua (Mat 5:27-30), hendak ditekankan inti larangan berzinah Kel 20:14 dan Ul 5:18 bukanlah semata-mata agar orang menghindari tindakan fisik, melainkan terutama sikap batin menginginkan orang lain jadi tujuan pemuasan nafsu. Memang pengajaran seperti ini tidak lagi dapat dianggap bagian hukum karena menyangkut yang tidak secara tegas-tegas diungkapkan melainkan tafsiran meluaskan cakupannya. Yang dikemukakan bukannya lagi larangannya melainkan apa yang mendasari larangan tadi. Masalah ini disoroti lebih jauh dengan contoh ketiga. Dalam pembicaraan contoh ini ditambahkan, bila menyebabkan dosa, lebih baik mata kanan dicukil mata kanan bila membuat orang berdosa, begitu pula, lebih baik kutungi tangan kanan.

Dalam contoh ketiga (Mat 5:31-32) diulas bagaimana memahami dengan benar prosedur menceraikan istri Ul 24:1-4. Memang dari sisi hukum Taurat, cukup bila dibuat surat cerai dan yang mesti diterima resmi oleh pihak istri. Demikian maka ada perlindungan hukum bagi bekas istri. Namun tak jarang prosedur semacam ini disalahgunakan, misalnya tanpa alasan yang kuat untuk menalak istri, atau alasan sebenarnya yang tidak lurus, misalnya menginginkan menikahi perempuan lain. Atau sekongkol suami-istri untuk bercerai demi alasan-alasan lain. Dalam Taurat ikatan nikah hanya bisa diputuskan bila istri menjalankan zinah. Dalam hal ini ikatan dengan suami sudah lepas, dan suami pun wajib menalak dengan prosedur surat talak tadi. Bila penalakan ini dibuat dengan cara lain, memang sang istri bebas dan bisa menikah lagi. Tetapi tindakan ini menyatakan istrinya pernah zinah - demikian merendahkan martabatnya. Lebih lagi, orang yang menikahinya kemudian akan ikut berzinah karena mengambil perempuan yang sebetulnya tidak dilepas dari ikatan nikah dengan alasan yang benar. Terlihat bagaimana pendengar diajak mengenali inti Taurat, yakni kejujuran terhadap diri sendiri dan kepada orang lain, dalam hal ini istri atau suami. Persetujuan yang sifatnya sekongkol melawan arah ini.

Dengan contoh keempat (5:32.33) mengenai larangan bersumpah palsu (Im 19.12 dan Ul 23:21) hendak ditekankan agar orang tidak gampang mengucapkan sumpah karena berat bebannya. Lebih sederhana dan lebih baik memegang perkataan, tampil berintegritas. Juga kerap dalam praktek, sumpah dijalankan untuk menipu tapi membuat pihak lain mau tak mau menerima karena sumpah itu mengatasnamakan perkara-perkara keramat.

WARTA?

Petikan yang memuat kata-kata keras ini sebenarnya mengajak orang untuk berpikir mengenai inti pengajaran agama  - bagi orang Yahudi waktu itu ialah kewajiban menjalankan hukum Taurat. Orang diajak melihat lebih dalam yang dimaksudkan Taurat sendiri dan tidak hanya tinggal pada permukaan. Diajarkan bagaimana menemukan Dia yang bersabda di dalam hukum-hukum Taurat, bukan sebaliknya, untuk menjalankan Taurat dan tidak lagi mencari inti keagamaan, yakni mendapati Tuhannya Taurat.

Kata-kata keras Yesus akan diperdengarkan dalam kesempatan peringatan 40 tahun hidup religius dari 8 orang Yesuit di provinsi Indonesia. Tersirat ajakan melihat kembali apakah selama 40 tahun hidup religius tetap mengambang di permukaan atau juga sempat mengenali arah-arah batin. Injil kali ini bukan untuk mengadili atau menilai, melainkan untuk menyegarkan hidup religius. Seperti tampil dalam ulasan di atas, ada dua arah menjalani Taurat: arah luar dan arah dalam. Tidak perlu yang satu dianggap kurang berharga dari yang lain. Bahkan keduanya ada bersama. Kepekaan akan arah-arah inilah yang memungkinkan hidup religius berjalan terus.

Salam hangat,
A. Gianto

Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ

Mata Ganti Mata Gigi Ganti Gigi

Matius 5 : 38 - 48


38           Kamu telah mendengar firman:
                Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
39           Tetapi Aku berkata kepadamu:
                Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,
                melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu,
                berilah juga kepadanya pipi kirimu.
40           Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau
                karena mengingini bajumu,
                serahkanlah juga jubahmu.
41           Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,
                berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
42           Berilah kepada orang yang meminta kepadamu
                dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
43           Kamu telah mendengar firman:
                Kasihilah sesamamu manusia
                dan bencilah musuhmu.
44           Tetapi Aku berkata kepadamu:
                Kasihilah musuhmu
                dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
45           Karena dengan demikianlah
                kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,
                yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik
                dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
46           Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu,
                apakah upahmu?
                Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
47           Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja,
                apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?
                Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
48           Karena itu haruslah kamu sempurna,
                sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."


Injil Minggu Biasa VII/A kali ini, Mat 5:38:48 melanjutkan petikan dari Minggu lalu yang memuat pengajaran keras Yesus melebihi yang umum diajarkan para guru Taurat. Juga kali ini disodorkan dua contoh menghayati Taurat lebih dari sekadar menepati rumusan. Yang pertama Mat 5:38-39 menyangkut pembalasan kekerasan ala "mata ganti mata, gigi ganti gigi" dari ajaran Taurat seperti tercantum dalam Kel 21:24 dan Im 24:20. Yang kedua merujuk pada perintah "mengasihi sesama" sebagaimana didapati dalam Im 19:20. Bagaimana memahami pengajaran kali ini?

ARAH LUAR  DAN ARAH DALAM

Seperti disarankan hari Minggu lalu, Injil Matius rupa-rupanya menggarisbawahi dua cara menghayati Taurat, bagi orang sekarang, dua cara menjalankan kehidupan beragama, yakni menepati yang diperintahkan dan menjauhi larangan; ini arah "luar". Cara kedua lebih menerima Taurat dan berusaha menemukan kehadiran Dia yang bersabda di dalamnya; ini arah "batin". Tak bisa dikatakan yang satu lebih unggul dari yang lain. Memang benar dalam keadaan hidup beragama orang Yahudi pada waktu itu, arah yang kedua bakal menggenapkan penghayatan Taurat. Itulah yang diajarkan Yesus kepada para murid yang berasal dari kalangan Yahudi saleh dan diutarakan kembali dalam petikan Injil Matius kali ini. Dalam kaitan itulah maka jelas maksud Yesus dalam Mat 5:17-18 bahwa ia datang bukan untuk meniadakan Taurat melainkan untuk menggenapinya.

Dalam arah inilah dapat didalami makna hukum Taurat mengenai pembalasan terhadap orang yang mencelakakan diri orang lain. Seperti terdapat dalam Mat 5:38, Yesus merujuk pada hukum Taurat yang berbunyi "mata ganti mata  dan gigi ganti gigi". Tentunya acuannya ialah hukum yang termaktub dalam Kel 21:24.  Guna memahaminya, baiklah disimak yang tertulis di situ dalam kaitan dengan konteksnya, yakni ayat 22-25: "Apabila ada orang berkelahi dan seorang dari mereka tertumbuk kepada seorang perempuan yang sedang mengandung, sehingga keguguran kandungan, tetapi tidak mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka pastilah orang itu didenda sebanyak yang dikenakan oleh suami perempuan itu kepadanya dan ia harus membayarnya menurut keputusan hakim. Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak". Peraturan seperti ini menunjukkan bagaimana Taurat melindungi kehidupan dengan ganti rugi yang setimpal. Sekaligus ditunjukkan betapa nyawa dan kehidupan itu amat dihormati. Jadi hukum Taurat ini sebenarnya mengajarkan bagaimana orang hendaknya menghargai kehidupan orang lain seperti kehidupannya sendiri. Begitulah Taurat. Dan orang-orang yang mendengar perkataan Yesus yang merujuk ke hukum ini tentulah mengerti konteks hukum itu. Dengan latar ini maka akan lebih jelas maksud perkataan mengenai pembalasan. Tekanan utama bukan pada pembalasan melainkan pada menghormati kehidupan.

Pendengar diajak untuk mendalami ajaran agama agar mengenali dasarnya, dalam hal ini apa yang mendasari aturan balas tindak kekerasan seperti dirincikan dalam kutipan kitab Keluaran di atas. Cara Yesus menunjukkan inti hukum itu khas, yakni dengan bahasa "perintah" agar pendengarnya bisa paham. Tetapi yang dituju ialah agar orang mulai memikirkan apa dasar hukum itu. Demikian dikatakan dalam Mat 5:39, "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." Bahasa hukum, bahasa perintah. Pendengar waktu itu tentu saja menyadari, wibawa pengajaran Yesus tidak setara dengan wibawa Taurat Musa. Kiranya Injil juga tidak bermaksud menunjukkan bahwa Yesus menggantikan Taurat seperti dikatakannya sendiri. Kata-kata itu justru untuk menggenapi Taurat. Seminar spontan berikut ini boleh jadi membantu.

KASIH PIPI KIRI BIAR DITAMPAR JUGA?

Kemarin di sebuah teras sebuah rumah angker di kawasan candi Semarang terjadi bincang-bincang spiritual virtual seperti berikut.

TERSIARIS           : [rada beringas & sinis] Jadi pengikut Yesus mesti memalingkan pipi kiri
                                 sesudah ditampar pipi kanannya? Dus bila gereja dirusak, maka
                                 biarkan sekalian dibakar. Gitu kan?
MATT                   : [senyum] Ah, jangan gitu dong. Tampar kanan kiri itu kan bahasa
                                 didaktik, bahasa pengajaran untuk berpikir mengenai sikap orang
                                 beragama. Mesti ditangkap arah yang sesungguhnya. Yesus kali ini
                                 menunjukkan bahwa kekerasan itu tak berbatas.Memberikan pipi
                                 kiri setelah pipi kanan ditampar itu justru membuat orang melihat
                                 bahwa penghinaan terhadap orang lain bisa berkelanjutan. Orang
                                 diajak melihat hal ini dan menyadari bahwa kekerasan tak bisa
                                 diterima. Jadi mbok ya jangan harfiah tangkapannya.
BIDEL TAKON  : [berkerut dahi] Lha kalau begitu tiga perkataan lain (ayat 40-42) ke
                                sana arahnya? Bila ada orang yang mengklaim baju (maksudnya kan
                                baju dalam), kasih kepadanya jubahmu (maksudnya pakaian luar) -
                                sehingga orang kelihatan berpakaian dalam melulu? Lalu orang yang
                                memaksamu jalan satu mil beri dia dua mil agar ia tahu bahwa
                                permintaannya itu penting dan kau tanggapi lebih? Juga ajaran
                                jangan menolak permintaan pinjam dimaksud agar orang menyadari
                                pentingnya kebutuhan orang lain?
MATT                : [sembari pencet-pencet Blackberry entah BBM ke siapa] Mulai
                               mengerti nih! Iya ke sana arahnya. Perkataan-perkataan Yesus itu
                               ajaran kepada orang Yahudi pada waktu itu untuk mengenali
                               bagaimana mengerti intinya Taurat
SETY                 :  Lha kalau sekarang bagaimana? Kan pendengarnya bukan seperti yang
                             dulu dan bahkan tak semua tahu hukum Taurat?
MATT               : [santai berkomentar] Justru itu perlunya mengerti apa yang dimaksud.
                             Ayat-ayat tentang berikan pipi kiri untuk juga ditampar itu kan untuk
                             menunjukkan kenyataan yang lebih dalam, yakni absurdnya penghinaan
                             terhadap sesama.Warta Injil di situ.
TINI & TONO : [terngiang dari kotbah Tom J.] Kalau begitu bukan barang baru, kita
                            sudah tahu buruknya penghinaan dan kekerasan terhadap orang lain.
MATT              : [sedkit mendelik] Apa Injil diharapkan mengajarkan yang muluk-muluk,
                            yang rahasia-rahasia, yang samasekali baru! Itu bukan Injil dong. Injil
                            itu kabar yang mesti melegakan, yang bikin gembira, bukan yang
                            membebani.Yang bisa universal nilainya. Itu baru perintah baru! Bukan
                            yang di permukaan dan itu itu melulu.

MENGASIHI SESAMA....

Mat 5:43-48 menampilkan Yesus merujuk pada perintah Taurat untuk mengasihi sesama seperti tercermin dalam Im 19:18, yang berbunyi demikian, "Janganlah engkau menuntut balas, janganlah menaruh dendam terhadap orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". Perintah itu ditujukan kepada umat Perjanjian Lama dan tujuannya ialah untuk menjaga kedamaian di dalam umat. Peraturan itu menyangkut kehidupan umat dan tidak mengenai orang luar. Yesus merumuskan kembali dengan mengungkapkan implikasinya pada bagian kedua mengenai membenci musuh, "Kamu telah mendengar yang difirmankan: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu." Dengan demikian kasih hanya dibataskan pada golongan sendiri. Ini kiranya belum cukup dan bahkan akan menjadi karikatur apa itu kasih. Semestinyalah mengasihi sesama itu tidak terbatas pada kelompok sendiri. Oleh karena itulah dalam Mat 5:43-48 orang diajak mengusahakan agar perhatian serta kebesaran hati terhadap sesama mencakup siapa saja, bukan hanya kawan sendiri. Mengasihi itu upaya yang tak mengenal batas kelompok, apalagi kelompok agama. Itulah yang kiranya hendak disampaikan. Ini melengkapi kesetiakawanan.

SEMPURNA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA ?

Dalam Mat 5:48 Yesus mengimbau pendengarnya agar menjadi sempurna seperti "Bapamu yang ada di surga sempurna". Pernyataan ini menggemakan Im 19:2 yang berisi kata-kata Allah orang Israel kepada Musa begini, "Berbicaralah ke segenap umat Israel dan katakan kepada mereka: kalian jadilah kudus, sebab Aku Tuhan, Allahmu, kudus." Umat Perjanjian Lama diimbau agar sepenuhnya menjadi umatnya Tuhan mereka, yakni Allah yang kudus. Demikian maka Dia akan sungguh menjadi Allah mereka. Yesus mengajarkan sikap beragama yang baru, yakni berani mendekat kepada Tuhan Allah sebagai Bapa yang mengusahakan apa saja yang terbaik bagi yang sedia menerimanya sebagai Allah yang dekat, yang peduli pada kemanusiaan meski tidak selalu jelas. Baru terasa teguh bila diimani. Inilah yang dimaksud dengan menjadi sempurna seperti Bapa sendiri sempurna.

Salam hangat,
A. Gianto

Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ

Hal Kekuatiran

Matius 6 : 24 - 34


24           Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.
                Karena jika demikian,
                ia akan membenci yang seorang
                dan mengasihi yang lain,
                atau ia akan setia kepada yang seorang
                dan tidak mengindahkan yang lain.
                Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah
                dan kepada Mamon."
25           "Karena itu Aku berkata kepadamu:
                Janganlah kuatir akan hidupmu,
                akan apa yang hendak kamu makan atau minum,
                dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu,
                akan apa yang hendak kamu pakai.
                Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan
                dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
26           Pandanglah burung-burung di langit,
                yang tidak menabur
                dan tidak menuai
                dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung,
                namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.
                Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27           Siapakah di antara kamu
                yang karena kekuatirannya
                dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28           Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian?
                Perhatikanlah bunga bakung di ladang,
                yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29           namun Aku berkata kepadamu:
                Salomo dalam segala kemegahannya pun
                 tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30           Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang,
                yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api,
                tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu,
                hai orang yang kurang percaya?
31           Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata:
                Apakah yang akan kami makan?
                Apakah yang akan kami minum?
                Apakah yang akan kami pakai?
32           Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.
                Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu,
                bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33           Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah
                dan kebenarannya,
                maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34           Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok,
                karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.
                Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."


Jangan risaukan apa yang akan datang

Dalam bacaan Injil kali ini, setelah mengajak para murid memeriksa siapa sebenarnya yang mereka junjung, Tuhan Allah atau harta kekayaan "mamon" (Mat 6:24), Yesus menegaskan tak perlulah orang merisaukan apa yang bakal mereka makan dan minum, pakaian apa yang dapat disandang - kan dalam hidup ini ada hal yang lebih penting (ay. 25). Diberikan pula lima penjelasan mengapa kerisauan itu tak perlu adanya - serahkan saja pada Tuhan semuanya: Tuhan memberi makan burung-burung - apalagi kepada manusia (ay. 26). Juga tak usah ributkan hidup panjang (ay. 27). Bunga-bunga saja dibuat Tuhan tampil menarik, tak perlu khawatirkan mau pakai pakaian apa agar menarik (ay. 28-30). Bapa di surga tahu apa yang dibutuhkan manusia (ay. 31-32). Maka tak usah risaukan apa yang bakal datang, puaslah dengan yang diperoleh hari ini - di situlah Kerajaan Allah dan kehendakNya! (ay. 33).

Mendengarkan Mat 6:24-34 tidak mudah. Apa kiita diajar agar tak usah memikirkan masa depan dan membiarkan diri dipelihara Tuhan. Ya memang begitu. Tapi dapatkah itu terjadi dalam dunia nyata? Dalam hidup sehari-hari? Kais pagi makan pagi dan kais petang makan petang? Seperti masyarakat yang masih hidup berpindah-pindah berhuma, ambil apa yang disediakan alam? Menyandarkan diri pada bantuan dari luar? Apa Injil mengajarkan hidup ekonomi parasit? Dan pastur mesti mengkhotbahkannya? Bagaimana bila nanti di kantong kolekte bukannya ditemukan lembaran uang kertas, tapi secarik kertas dengan rujukan ke Injil hari Minggu ini?

TAK PERLU KHAWATIR?

Manusia itu makhluk berekonomi, yang hidupnya bisa berlangsung bila ditata, diatur agar bisa mendapatkan yang dibutuhkan dan dengan demikian hidupnya itu terasa berharga, berhasil, patut dikembangkan terus Dalam masyarakat tertentu memang orang tak perlu khawatir akan masa depan karena masyarakat menjamin hidup dari hari ke hari. Alam pun bisa menjamin. Namun bukan inilah yang ditampilkan Injil kali ini. Bukan pula yang diajarkan Yesus. Kepasrahan kepada Bapa di surga tidak melepaskan tugas mengurus hidup ekonomi rumah tangga. Bila mengajarkan kemalasan mengurus kehidupan maka Injil tak bisa lagi dipercaya. Hanya seperangkat ucapan suci tanpa arti. Dan pelayan umat janganlah memerosotkan Injil ke situ.

Zaman sekarang di masyarakat modern mau tak mau orang perlu merencanakan masa depan. Nah di sini persoalannya. Ada hidup dan masa depan dirancang dan dikejar berdasarkan pada kekhawatiran, dengan perhitungan bakal serba kekurangan. Maka simpanlah sebanyak-banyaknya, pakailah sesedikit mungkin. Ini hidup kikir. Penimbun yang hidupnya merana dan membuat orang-orang sekitarnya merana pula. Gaya hidup ini sebenarnya tidak memberi peluang pada Tuhan untuk memperhatikan manusia. Semuanya diurus sendiri. Tak ada lagi dimensi dari Tuhan dalam hidup. Ini keliru.

Ini juga sebenarnya yang dimaksud dalam Injil ketika menyindir bahwa orang tak bisa mengabdi pada dua tuan, Tuhan Allah dan kekayaan atau "mamon" (Mat 6:24). Dalam keadaan ini orang memang masih mengakui kebesaran Tuhan Allah, tapi pada saat yang sama tidak memberi ruang bagiNya karena semua diurus sendiri. Keagamaan seperti ini sulit berkembang.

Tetapi ada pula hidup yang ditata baik-baik dengan perhitungan agar bisa mencapai yang diinginkan tanpa kekhawatiran yang mencekik. Ini yang membuat hidup berarti. Ini juga yang memungkinkan orang percaya bahwa dari hari ke hari ada kesempatan untuk hidup terus. Inilah yang menjadi dasar pernyataan dalam Mat 6:34. "Janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. kesusahan sehari cukuplah untuk sehari". Bisa diingat salah satu permintaan yang disampaikan dalam doa yang diajarkan Yesus, "...Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya" (Mat 6:11, rumusan dalam doa Bapa kami ialah "Berilah kami rezeki pada hari ini.")

CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH...

TANYA  : Mau tanya apa yang dimaksud dengan "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan

                 kehendakNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"  dalam 
                 Mat 6:33.

JAWAB: Akan jelas bila dihubungkan dengan Mat 6:24 yang mengatakan orang tak 

                bisa mengabdi pada dua tuan, Allah dan Mamon (=kekayaan). Kerajaan 
                Allah dan kehendakNya itu kekayaan batin. Inilah yang dianjurkan agar 
                diabdi. Bila begitu yang lain - "mamon" dan harta - akan menjadi penunjang, 
                bukan saingan.

TANYA: Jadi bukan dimaksud agar orang menyingkir dari upaya memenuhi 

               kebutuhan jasmani, cari makan, nafkah dan menyimpan bagi masa 
               depan?

JAWAB: Betul. Yang diajarkan ialah memberi ruang pada hidup batin, membangun 

                Kerajaan Allah dalam kehidupan ini.

TANYA: Jadi bukan ajaran bahwa Kerajaan Allah itu berlawanan dengan kehidupan 

               ekonomi sehat di bumi ini. Apa urusan mendahulukan Kerajaan Allah itu 
               nanti tidak malah menjurus ke arah omong-omong suci yang sebetulnya 
               bohong sedangkan yang sebenarnya dijadikan pegangan ialah yang 
               diam-diam dijalankan - hidup ekonomi?

JAWAB: Bila dipertentangkan begitu saja maka hidup beragama jadi masalah. 

                Agama dijadikan alternatif kehidupan ekonomi. Ini bisa runyam. Hidup 
                beragama nanti hanya jadi semacam public lies - kebohongan yang 
                diulang-ulang di muka umum, sedangkan yang dilakukan ialah yang 
                diam-diam dipegang sebagai keyakinan pribadi "private truths".

TANYA : Wah, ini eksegese kok seperti analisis sosial. Apa barusan baca 

                bukunya ahli ekonomi terkenal Timur Kuran, "Private Truths, Public 
                Lies: The Social Consequences of Preference Falsification" 
                (Cambridge, Mass: Harvard University Press 1997)?

JAWAB: Buku itu tak bicara soal eksegese, tapi mengenai ekonomi dan agama 

                di Timur Tengah. Perilaku beragama sering bisa dianalisis sebagai basa 
                basi umum belaka,sedangkan yang dipegang ialah keyakinan lain yang
                tak bisa dilaksanakan akibat kuatnya basa basi itu. Ini terjadi dalam 
                masyarakat yang keberagamaannya kurang sehat. Di situ mendahulukan 
                "Kerajaan Allah" tak dimungkinkan terjadi karena tercekik keagamaan 
               sendiri. Menarik bukan? Tapi kita bicarakan analisis ini lain kali saja deh. 
               Masih ngantuk akibat jetlag balik dari mudik.

Salam dari Roma,
A. Gianto

Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ

Minggu Biasa IX tahun A

Matius 7:21-27  


21           Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!
                akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,
                melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22           Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan,             
                bukankah kami bernubuat demi nama-Mu,
                dan mengusir setan demi nama-Mu,
                dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23           Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka
                dan berkata:
                Aku tidak pernah mengenal kamu!
                Enyahlah dari pada-Ku,
                kamu sekalian pembuat kejahatan!
24           Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini
                dan melakukannya,
                ia sama dengan orang yang bijaksana,
                yang mendirikan rumahnya di atas batu.
25           Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,
                 lalu angin melanda rumah itu,
                tetapi rumah itu tidak rubuh
                sebab didirikan di atas batu.
26           Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini
                dan tidak melakukannya,
                ia sama dengan orang yang bodoh,
                yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
27           Kemudian turunlah hujan
                dan datanglah banjir,
                lalu angin melanda rumah itu,
                sehingga rubuhlah rumah itu
                dan hebatlah kerusakannya.

Ulangan 11:18.26-28.32
18           Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini
                dalam hatimu dan dalam jiwamu;
                kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu
                dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu.
26           Lihatlah,
                aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk:
27           berkat,
                apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu,
                yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;
28           dan kutuk,
                jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu,
                dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini,
                dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.
32           maka haruslah kamu melakukan dengan setia segala ketetapan
                dan peraturan yang kupaparkan kepadamu pada hari ini.


Rekan-rekan yang baik!
Dalam Mat 7:21-27 Yesus menegaskan bahwa yang membuat orang masuk ke Kerajaan Surga ialah menjalankan kehendak "Bapa-ku yang di surga" dan bukanlah semata-mata menjalankan pelbagai kebaikan, seperti bernubuat, mengusir setan, bermukjizat demi nama Tuhan. Pengajaran ini bagian dari Khotbah di Bukit (Mat 5-7) yang memuat dasar-dasar kehidupan umat baru: Sabda Bahagia (5:1-12) yang dilanjutkan dengan penegasan bahwa para murid itu garam dunia (5:12-14) dan bahwa Yesus mengajar untuk meneguhkan serta menjalankan yang sudah mereka ketahui dari Taurat Musa (5:17-48). Khususnya bila memberi sedekah, hendaknya tak usah mempertontonkannya (6:1-4), begitu juga bila berdoa (6:5-15; "Bapa Kami" 9a-13) dan berpuasa (6:16-18).  Umat diajar agar tak terikat pada kekayaan duniawi 6:19-24) dan menumbuhkan sikap pasrah kepada kebesaran ilahi agar rasa khawatir teratasi (6:25-34). Hendaknya murid tidak bersikap mau menghakimi orang lain (7:1-5), hendaknya bersikap hormat akan barang keramat (7:6), berteguh dalam memohon (7:7-11), berani berusaha walau jalan kebenaran terasa sesak dan sempit pintunya (7:12-14), sambil mewaspadai sikap kesalehan palsu (7:15-23), tetapi hendaklah bijaksana dan penuh perhitungan (7-24-27). Orang banyak menjadi takjub karena Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

DARI BACAAN PERTAMA (Ul 11:18. 26-28. 32)
Konteks pengajaran Yesus ialah kehidupan rohani umat Perjanjian Lama. Dapat dikatakan, inti kerohanian mereka ialah meluhurkan Sabda Ilahi dan menyediakan diri untuk ditempatiNya. Dengan demikian mereka berbagi hidup denganNya dan menemukan kebahagiaan sejati. Sabda dapat dikenali dalam ujud Taurat yang memuat macam-macam ketetapan serta peraturan kehidupan umat. Oleh sebab itu, menjalankan semua ini dengan sebaik-baiknya menjadi jalan menuju ke kebahagiaan hidup dan keselamatan. Kesadaran seperti ini tercermin dalam bacaan pertama, Ul 11:18. 26-28. 32. Orang diimbau agar menaruh perkataan ilahi dalam hati dan jiwa - maksudnya dalam pikiran, anganan, dan dalam kehidupan. Juga diminta agar perkataan itu diikatkan sebagai tanda pada tangan dan menjadi lambang di dahi (ay. 18). Begitu maka semua perbuatan ("tangan") dan maksud tujuannya ("dahi") dihubungkan langsung dengan Sabda Ilahi sendiri. Tentu saja bukannya tindakan luar belaka. Bila tidak disertai kesungguhan, maka perkataan yang mendatangkan berkat itu malah membuat orang terkutuk justru bila tidak menjalankannya (ay. 26-28). Oleh karena itu orang sekali lagi diimbau untuk mengikuti ketetapan-ketetapan dan peraturan hidup yang membuat kehadiran Sabda terlaksana dalam kehidupan umat (ay. 32). Boleh dikatakan "hukum-hukum Taurat" dimaksud untuk memudahkan orang mendekat kepada Sabda Ilahi sendiri. Tetapi bukanlah peraturan-peraturan itulah yang menjadi pokok. Lama kelamaan dalam keagamaan umat Perjanjian Lama hukum-hukum itu disamakan dengan tujuan sehingga memberatkan. Oleh karena itu berkembang profesi para ahli hukum Taurat yang menjelaskan makna peraturan dan mengarahkan pada tujuan hukum itu sendiri.

Pada zaman kemudian ada pengajar-pengajar yang justru menekankan sisi hukum dan bukan isi serta tujuannya. Mereka membuat umat terbebani. Sabda Ilahi yang memerdekakan batin malah tidak ditekuni. Pengajaran Yesus di Bukit (Mat 5-7) khususnya 5:17-48 bertujuan mengembalikan peraturan Taurat ke tujuan semula. Dan orang banyak menangkap arah ini, oleh karena itu diceritakan Matius bahwa mereka takjub Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

AGAMA OBROLAN & OBRALAN?
Sebuah ironi bahwa agama sering menjadi buah bibir dan dibicarakan dalam banyak kesempatan, tetapi berhenti dalam bentuk obrolan belaka. Memang enak memperkatakan hal-hal yang ada "di sana", bebas dari macam-macam kenyataan yang tak mengenakkan dalam hidup sehari-hari. Kerap juga sumber-sumber hidup agama, terutama Kitab Suci dikemas dalam bentuk seruan-seruan moral seperti barang obralan belaka. Inilah kiranya yang melatari Mat 7:21 "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku 'Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di surga." Memang agama menolong orang untuk melihat arah ke depan, ke hidup kekal, ke keselamatan. Namun menaruh agama dalam arahan itu sering membuat orang lupa daratan, menjauhi kenyataan di sekeliling. Masalah ini saya bawa kepada Matt.

GUS   :  Ini nih, Matt, kok petikan kali ini ditaruh dalam hubungan dengan "pada hari
             terakhir" (ayat 22), maksudnya apa?
MATT:  Saat orang tahu betul apa yang betul dan apa yang tidak.
GUS   :  Lho, jadi sekarang ini tidak begitu jelas mana yang benar?
MATT:  Kiranya begitu. Tapi ada pegangannya, sudah disebut di situ: menjalankan
             kehendak "Bapa-ku yang ada di surga".
GUS   :  Penjelasannya bagaimana, umat di paroki masih bertanya-tanya.
MATT:  Ehm, ungkapan "Bapa-ku yang ada di surga" itu khas ajaran sang guru kita
             Yesus. Ingat, bahwa "Bapaku" itu kalau dilacak Aramnya dikatakan bukan
             untuk membedakan "Bapaku" dengan "Bapamu" atau bapanya kaum ini
             atau itu, tapi untuk menyebut Yang Mahakuasa dengan cara akrab, dekat,
             tanpa sungkan-sungkan.
GUS   :  Kok masih kabur. Apa maksudnya membedakan Tuhan Allah yang jauh
            dan yang dekat, penuh perhatian?
MATT:  Persis! Dalam doa Bapa Kami para murid diajak untuk belajar berani
             memanggil Yang Mahakuasa dengan cara itu. Jadi kita didorong untuk
             belajar mendekat ke Yang Mahakuasa tanpa takut-takut, walau hormat
             dan pasrah. Maka doanya berlanjut dengan "jadilah kehendakMu".
GUS   :  Tapi apa sih kehendak Bapa itu? Bagaimana kita bisa tahu?
MATT:  Belum belajar? Lupa novisiat? Begini, orang Perjanjian Lama boleh tahu
             yang dikehendakiNya lewat Taurat. pada zaman Yesus orang banyak
             diajak mengikuti tafsir Taurat yang hidup dan menakjubkan, yakni Yesus
             sendiri. Itu dia pegangannya.
GUS   : Jadi gampangnya, kalau buka Kitab Suci, kitab pertama, Kejadian mulai
            dengan pernyataan kehendak Yang Mahakuasa, "Jadilah terang!" dan
            begitu ciptaan mulai dan seterusnya. Ini kan pegangan kita? Kehendak ilahi
            dalam menciptakan wahana kehidupan di jagat ini?
MATT:  Wah, pintar nih. Lalu?
GUS   :  Dari Oom Hans kita tahu bahwa "terang" itu ialah Sabda, yang kenyataannya
             ialah Yesus yang kita ikuti ini kan?
MATT:  Eh, kalau begini terus nanti kami jadi murid.
GUS   :  [geli, Matt sih memang tidak kenal tulisan Oom Hans, tahunya hanya Mark]:
             Kita setuju saja, melakukan kehendak Bapa yang di surga itu sama dengan
             tidak  menghalangi agar Terang semakin meluas dan Sabda makin didengar.
MATT:  [serius mukanya]: Ya tentu itu yang dimaksud! Mereka yang menggembar-
             gemborkan telah begini begitu sebenarnya tidak membiarkan Sabdanya
             makin kedengaran, melainkan kata-kata mereka sendiri. Masuk Kerajaan
             Surga itu bukan upaya sendiri melainkan diupayakan oleh Yang Di Atas sana.
             Hanya perlu membiarkan diri dibawa ke sana.

DUA JALAN
Dalam bagian kedua Injil Minggu kali ini disampaikan perumpamaan mengenai orang yang membiarkan diri diresapi Sabda, yakni "mendengar perkataanku dan melakukannya" sebagai orang yang membangun rumah di atas batu. Akan tetap kokoh sekalipun diterpa hujan dan angin. Tetapi yang mendengar dan tidak menjalaninya - tidak membiarkan diri dirasuki Sabda - seperti rumah yang dibangun di atas pasir, bakal rubuh dilanda air banjir hujan dan angin. Tetapi perumpamaan ini tidaklah sesederhana itu. Masalahnya bukan "sanggup" atau "kurang sanggup" menjalankan yang didengar. Bila begitu akan tampil sebagai seruan moral yang bagus didengar tapi risikonya berhenti pada kesalehan belaka. Matius menaruh persoalannya pada tradisi kebijaksanaan. Orang yang membangun rumah dengan dasar yang kukuh ialah "orang bijak", tapi yang mendirikan rumah di atas pasir hanyalah "orang bodoh".  Perumpamaan mengenai membangun rumah di atas batu atau di atas pasir disodorkan sebagai dua jalan. Yang satu jalan kepintaran yang mengantar ke keselamatan, yang lain jalan kebodohan yang mendorong ke kehancuran.

Dalam alam pikiran orang Yahudi, hidup beragama yang benar baru terwujud bila dijalani dengan bijaksana. Bahkan boleh dikatakan, kebijaksanaan ialah keagamaan yang sejati. Bukannya semata-mata menetapi hukum-hukum. Bukannya sekadar menyuarakan ajaran-ajaran. Bukannya melulu menjalankan ini itu "atas nama Tuhan". Orang bijaksana memperhitungkan tindakan-tindakannya. Seperti dalam perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima lain yang bodoh (Mat 25:1-13), diperhitungkan keadaan yang tidak diharapkan: mempelai datang larut malam, atau seperti dalam perumpamaan kali ini, hujan angin. Hendak disampaikan gagasan bahwa menepati ajaran agama tidak otomatis memperoleh jalan masuk ke Kerajaan Surga. Malah yang beranggapan demikian akan mengalami kerugian besar.

Salam,
A. Gianto


Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ