Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (Yoh 1:1-5)

Minggu, 03 April 2011

Yesus Mengusir Roh Jahat dari Orang Gerasa

Markus 5 : 1 - 20
"Pulanglah ke rumahmu,
kepada orang-orang sekampungmu,
dan beritahukanlah kepada mereka
 segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu
dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
Mrk 5: 19

 1              Lalu sampailah mereka di seberang danau,
                di daerah orang Gerasa.
2              Baru saja Yesus turun dari perahu,
                datanglah seorang yang kerasukan roh jahat
                dari pekuburan
                menemui Dia.
3              Orang itu diam di sana
                dan tidak ada seorang pun lagi
                yang sanggup mengikatnya,
                sekalipun dengan rantai,
4              karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai,
                tetapi rantainya diputuskannya
                dan belenggunya dimusnahkannya,
                sehingga tidak ada seorang pun yang cukup kuat
                untuk menjinakkannya.
5              Siang malam ia berkeliaran di pekuburan
                dan di bukit-bukit
                sambil berteriak-teriak
                dan memukuli dirinya dengan batu.
6              Ketika ia melihat Yesus dari jauh,
                berlarilah ia mendapatkan-Nya
                lalu menyembah-Nya,
7              dan dengan keras ia berteriak:
                                 "Apa urusan-Mu dengan aku,
                                hai Yesus,
                                Anak Allah Yang Mahatinggi?
                                Demi Allah,
                                jangan siksa aku!"
8              Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya:
                                "Hai engkau roh jahat!
                                Keluar dari orang ini!"
9              Kemudian Ia bertanya kepada orang itu:
                                "Siapa namamu?"
                Jawabnya:
                                "Namaku Legion,
                                karena kami banyak."
10           Ia memohon dengan sangat
                supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.


11           Adalah di sana
                di lereng bukit
                sejumlah besar babi sedang mencari makan,
12           lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya,
                katanya:
                                "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu,
                                biarkanlah kami memasukinya!"
13           Yesus mengabulkan permintaan mereka.
                Lalu keluarlah roh-roh jahat itu
                dan memasuki babi-babi itu.
                Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu 
                terjun dari tepi jurang ke dalam danau
                dan mati lemas di dalamnya.


14           Maka larilah penjaga-penjaga babi itu
                dan menceriterakan hal itu di kota
                dan di kampung-kampung sekitarnya.
                Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.
15           Mereka datang kepada Yesus
                dan melihat orang yang kerasukan itu duduk,
                sudah berpakaian
                dan sudah waras,
                orang yang tadinya kerasukan legion itu.
                Maka takutlah mereka.
16           Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu
                menceriterakan kepada mereka
                tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu,
                dan tentang babi-babi itu.
17           Lalu mereka mendesak Yesus
                supaya Ia meninggalkan daerah mereka.


18           Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu,
                 orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta,
                supaya ia diperkenankan menyertai Dia.
19           Yesus tidak memperkenankannya,
                tetapi Ia berkata kepada orang itu:
                                "Pulanglah ke rumahmu,
                                kepada orang-orang sekampungmu,
                                dan beritahukanlah kepada mereka
                                segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu
                                dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
20           Orang itu pun pergilah
                 dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis
                segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya
                dan mereka semua menjadi heran.

Bacaan yang diberi judul “Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa” dalam Kitab Markus memiliki sinoptik pada Matius 8:28-34 dan Lukas 8:26-39. Dalam Alkitab yang dikeluarkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia sebagai Alkitab Terjemahan Baru, bacaan ini ditulis dalam 4 buah alinea. Ayat 1-10, ayat 11-13, ayat 14-17 dan ayat 18-20. Kita mencoba membahas satu persatu ayat tersebut dan sambil bertanya dalam diri kita sendiri, apa kira-kira maksud dari SabdaNya ini.

Ayat 1-10
Sebelum kita masuk ke dalam ayat ini, kita akan mulai bertanya pada diri kita sendiri, kapan peristiwa ini terjadi. Jika kita baca perikop sebelumnya, maka perikop ini melanjutkan kisah mengenai angin ribut yang diredakan. Hal itu terjadi di atas danau Galilea. Ayat 1 menyatakan bahwa mereka sampai di seberang danau. Mereka di sini merujuk pada Yesus beserta murid-murid-Nya.  Danau yang dimaksudkan adalah danau Galilea. Danau Galilea ini terletak di bagian utara lembah sungai Yordan. Danau ini dikenal juga sebagai Laut Galilea atau Danau Genesaret (Luk 5:1). Orang Roma menyebutnya sebagai Danau Tiberias (Yoh 6:1, 21:1). Mereka  tiba di daerah yang bernama Gerasa menurut Markus, tetapi Matius menyebutkan sebagai Gadara (Mat 8:28).  Jika kita melihat pada peta semasa Yesus, maka akan tampak bahwa Gerasa maupun Gadara berada dalam wilayah yang disebut Dekapolis atau Sepuluh Kota.  Gerasa terletak di sebelah timur Sungai Yordan dan di sebelah selatan danau Galilea. Corak bangunan, penduduk dan gaya hidup mereka terutama mengikuti budaya Yunani. Jika kita membaca ayat selanjutnya, bahwa di kota ini dipiara babi, maka dapat diketahui bahwa daerah ini bukanlah daerah Yahudi, karena Yahudi tidak memelihara babi. Pada kalangan Yahudi, daerah ini merupakan daerah kafir. Topologi daerah ini adalah pesisir pantai dengan perbukitan-perbukitan curam dan jurang yang dalam.
Ayat 2 menjelaskan kepada kita bahwa ketika Yesus beserta rombongan-Nya tiba di Gerasa itu, ada seorang yang kerasukan roh jahat menemui Yesus. Orang ini tinggal di pekuburan, suatu tempat yang akan dihindari oleh orang-orang pada umumnya. Roh jahat atau setan pada masa itu dipandang sebagai penyebab berbagai macam penyakit termasuk penyakit jiwa. Orang yang dikuasai oleh roh jahat dianggap ‘tidak tahir’ sehingga tidak diperkenankan makan atau beribadat bersama orang lain. Masyarakat biasanya menyingkirkan orang-orang yang dianggap tidak tahir itu karena kuatir penyakit yang disebabkan roh jahat itu akan ‘berpindah’ ke mereka.
Dari keterangan yang diperoleh pada ayat 3-5, dapatlah dibayangkan bahwa orang ini kuat sekali, karena tidak dapat diikat dengan rantai, rantai tersebut sering diputuskannya dan belenggu pun dimusnahkan orang ini. Mengapa orang ini dicoba untuk diikat dengan rantai? Karena kepercayaan yang berkembang saat itu adalah roh jahat akan meninggalkan orang yang dirasukinya jika orang tersebut dirantai. Tetapi tampaknya kali ini roh jahat sungguh kuat sehingga tidak kabur ketika orang yang dirasukinya dirantai, malahan memutuskan rantai tersebut. Hal lain yang menunjukkan orang ini memang tidak dalam keadaan normal adalah berteriak-teriak dan memukuli diri dengan batu. Ia juga berkeliaran di pekuburan dan bukit-bukit, tempat yang tidak ditinggali oleh orang-orang pada umumnya.
Ketika orang ini melihat Yesus maka ia berlari mendekat untuk mendapatkan Yesus, menyembah-Nya. Seperti juga dikatakan pada Mrk 3:11, jika roh jahat melihat Yesus, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak ‘Engkaulah Anak Allah’. Kali ini roh jahat itu berteriak ‘Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi, jangan siksa aku!’ setelah Yesus menghardiknya. Suatu pernyataan yang menandakan bahwa roh jahat ini mengenal Yesus dan mengakui kekuasaan-Nya melebihi kekuasaan mereka. Apalagi ketika identitas mereka ditanyakan oleh Yesus, mereka langsung mengakui siapa mereka, yaitu ‘legion’. Legion adalah istilah dalam dunia kemiliteran Romawi yang berarti kelompok pasukan yang terdiri dari enam ribu orang. Suatu kenyataan bahwa roh jahat ini sudah menyerah adalah permohonan mereka untuk tidak diusir dari daerah itu.

Ayat 11-13
Ayat 11 tampak seperti perpindahan pembicaraan dengan menjelaskan mengenai keberadaan babi dalam jumlah besar di sana. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, babi adalah binatang najis menurut tradisi Yahudi. Orang Yahudi di Palestina tidak mungkin memelihara babi. Jika dikatakan bahwa di daerah itu terdapat sejumlah besar babi, maka dapat dipastikan bahwa di daerah itu umumnya dihuni oleh orang-orang asing, non Yahudi. Roh jahat itu memohon kepada Yesus untuk diperbolehkan pindah ke dalam babi-babi tersebut. Yesus mengabulkan permohonan itu. Hal ini mengundang pertanyaan, mengapa Yesus tidak langsung menumpas para roh jahat itu? Tetapi jika kita ingat akan perumpamaan Yesus mengenai gandum dan ilalang, maka kita menyadari bahwa Yesus memberi kesempatan bagi roh jahat itu untuk dapat mengubah hidup mereka. Tetapi apa yang terjadi, babi-babi dengan roh jahat di dalamnya malah terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

Ayat 14-17
Perpindahan konteks terjadi lagi di ayat ke 14, kali ini berbicara mengenai para penjaga babi yang berlari dan menceritakan kisah ini kepada orang-orang di kota dan kampung sekitar. Masyarakat keluar dan menyaksikan sendiri bahwa orang yang selama ini kerasukan sudah dapat duduk, berpakaian dan sudah waras. Tetapi masyarakat malahan mendesak Yesus untuk pergi. Dugaan yang ada adalah Yesus membuat kerugian materi bagi mereka, dan mereka tidak melihat suatu berkat yang ada yaitu bahwa orang yang kerasukan roh jahat ini sudah tahir.

Ayat 18-20
Ayat 18 bercerita bahwa Yesus kemudian naik lagi ke dalam perahu, dan dikejar oleh orang yang kerasukan roh jahat tadi, memohon untuk ikut menyertai Yesus. Yesus tidak memperbolehkannya melainkan memintanya untuk mengabarkan kepada semua orang mengenai apa yang telah terjadi pada dirinya dan bahwa Tuhan mengasihaninya. Orang itu mentaati perintah Yesus dan mulai mewartakan di daerah Dekapolis (Sepuluh Kota), suatu daerah dengan persekutuan sepuluh kota yang dihuni oleh orang-orang bukan Yahudi, terletak di sebelah timur Samaria dan Galilea. Bentuk bangunan di kota-kota itu bercorak Yunani dan setiap kota dibangun mengikuti model salah satu kota di Yunani. Orang-orang yang tinggal di situ juga hidup dalam budaya Yunani. Dan tanggapan masyarakat terhadap pewartaannya adalah mereka semua menjadi heran. Heran di sini menandakan ketakjuban dan akhirnya mengarah kepada penerimaan akan Yesus.

Refleksi
Beberapa hal yang dapat menjadi refleksi kita bersama adalah :
  1. Yesus memiliki kuasa atas alam semesta, ketika meredakan angin ribut, tampak bahwa Yesus berkuasa atas alam. Dalam perikop ini, ditunjukkan bahwa Yesus berkuasa juga terhadap roh dari dunia lain.
  2. Ketika orang dengan roh jahat di dalamnya melihat Yesus, mereka segera mengenali Yesus sebagai Anak Allah. Hal ini menjadi perenungan bagi kita, roh jahat atau setan saja dapat mengenali Yesus dan menyadari kekuasaan-Nya yang luar biasa. Apakah kita mengenali-Nya dan mentaati-Nya?
  3. Masyarakat biasanya mengucilkan orang-orang yang tidak ‘normal’ menurut pandangan mereka. Ketika roh jahat memohon agar tidak diusir keluar dari daerah mereka, Yesus mengabulkannya dan memberi kesempatan bagi mereka. Apakah kita juga mau memberi kesempatan kepada orang yang bersalah kepada kita? Ataukah kita cenderung untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap bersalah/tidak normal?
  4. Ketika masyarakat telah melihat sendiri bahwa orang yang kerasukan roh jahat itu dibebaskan, mereka bukannya bersukacita tetapi malahan mengusir Yesus. Bisa jadi karena Yesus dipandang merugikan mereka secara materi. Apakah kita mau bersuka cita atas keselamatan jiwa-jiwa saudara-saudara kita dan tidak melihat pengurbanan harta benda sebagai suatu hal yang sia-sia? 
  5. Ketika orang yang dibebaskan dari roh jahat meminta ijin agar boleh mengikuti Yesus, Yesus menolaknya dan menganjurkannya untuk mewartakan Kabar Gembira itu kepada orang-orang lain. Kita diharapkan menjadi saksi hidup atas karya Cinta Kasih Allah. Maukah kita menjadi pewarta Kabar Gembira itu?


Ditulis oleh Theresia Ratih Sawitridjati


Minggu, 20 Maret 2011

Minggu Prapaskah II Tahun A

Mg Prapaskah II: Kej 12:1-4c; 2Tim 1:8b-10; Mat 17:1-9

"Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
Setelah memasuki bahtera perkawinan atau tahbisan imamat, pada umumnya orang menikmati masa yang menarik dan mempesona, yaitu `bulan madu'. Selama berbulan madu kiranya orang sungguh menikmati masa-masa indah dan mempesona, yang mendorong orang kemudian menjanjikan sesuatu yang luhur, mulia, tinggi dan menggiurkan, misalnya baik suami atau isteri akan setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, seorang imam berjanji untuk melayani umat dimanapun dan kapanpun dengan rendah hati. Ada kemungkinan orang menyebar-luaskan janji tersebut kepada siapapun tanpa perhitungan. Tiga rasul mengalami sesuatu yang indah dan mempesona, pengalaman penglihatan Yesus bersama dua nabi termashyur dalam perubahan rupa di bukit Tabor, namun Yesus berpesan kepada mereka "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati" Selama memasuki masa Prapaskah ini ada kemungkinan kita juga menerima hiburan-hiburan rohani atau pencerahan dan kita tergerak untuk menceriterakannya kepada saudara-saudari kita. Namun baiklah dengan sabar kita membagikan pengalaman tersebut sampai di Hari Kemenangan, Hari Raya Paskah nanti.

"Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."(Mat 17:9)

Sabda Yesus ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak mengumbar atau menyebar-luaskan seenaknya apa yang baik dalam diri kita atau yang kita miliki, misalnya cita-cita, harapan, dambaan, niat-niat, dst… Kita diharapkan untuk mencecap dalam-dalam atau meresapkan semua itu ke dalam hati sanubari, sehingga merasuki seluruh anggota tubuh kita. Maka baiklah selama masa Prapaskah ini kita mawas diri perihal janji-janji yang telah kita ikrarkan, misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai atau pelajar, sumpah dst.. Ketika dalam mawas diri ada kemungkinan kita memperoleh pencerahan: suatu ajakan atau panggilan dan niat untuk memperbaharui janji, karena telah ingkar janji, hendaknya ajakan atau niat tersebut dicecap dalam-dalam dahulu dan di Trihari Suci nanti kita perbaharuilah dengan sepenuh hati.

Keutamaan kesabaran itulah yang hendaknya kita perdalam selama masa Prapaskah. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur , Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Gejolak dalam diri kita dapat bersifat baik atau buruk, bermoral atau amoral. Gejolak yang buruk dan amoral hendaknya dengan diam-diam ditahan seraya melakukan apa yang berlawanan alias yang baik dan bermoral. Ketika berbuat baik pun hendaknya juga dengan diam-diam, tak usah mencari muka, sebagaimana dipesankan oleh Yesus ketika memasuki masa Prapaskah, pada hari Rabu Abu :"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6:1-4)

Berbuat baik kepada sesama diharapkan tidak karena paksaan dalam bentuk apapun, melainkan merupakan kesaksian iman yang mendalam, meluap dari kedalaman hati sanubari. Maka baiklah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus kepada Timoteus di bawah ini.

"Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (2Tim 1:8-10)

"Ikutilah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah", inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Injil adalah kabar gembira atau kabar baik. Pada masa kini untuk berbuat baik atau mewartakan atau menyebarluaskan apa yang baik kiranya akan menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Marilah kita hadapai aneka tantangan, hambatan dan masalah dengan atau dalam kekuatan atau kasih karunia Allah. Bersama dan bersatu dengan Allah kita pasti mampu mengatasi aneka hambatan, tantangan dan masalah.

Kasih karunia atau kekuatan Allah antara lain berupa iman, harapan dan cintakasih, maka baiklah aneka hambatan, tantangan dan masalah kita hadapi dengan atau dalam iman, harapan dan cintakasih. Dalam atau dengan iman berarti kita mempersembahkan diri seutuhnya dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/kekuatan menghadapi aneka hambatan, tantangan dan masalah, yang berarti bekerja keras melaksanakan aneka macam tugas atau pekerjaan kita. Maka bagi yang sedang bekerja hendaknya sungguh mengerjakan sepenuh hati pekerjaan yang diberikan kepadanya, demikian juga bagi yang sedang belajar, hendaknya sungguh belajar dengan giat. Dalam dan dengan harapan berarti melaksanakan aneka macam tugas atau menghadapi aneka hambatan, tantangan dan masalah dengan gembira serta ceria, penuh gairah dan semangat. Dalam kegairahan, keceriaan dan kegembiraan hati, jiwa aka budi dan anggota tubuh kita senantiasa terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan serta siap sedia memfungsikannya. Hadapilah aneka masalah, tantangan dan hambatan dengan gairah, semangat dan ceria. Dalam dan dengan cintakasih berarti menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan secara positif serta menyikapinya sebagai wahana atau sarana untuk tumbuh dan berkembang. Cintakasih itu "sabar, murah hati,tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (lih 1Kor 13:4-7)

"Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan"
(Mzm 33:4-5.18-19)

Jakarta, 20 Maret 2011

Ditulis oleh Romo Ignatius Sumarya, SJ

Murahlah Hati, Sama Seperti Bapamu Murah Hati

Lukas 6 : 36 - 38

36           Hendaklah kamu murah hati,
                sama seperti Bapamu adalah murah hati.
37           Janganlah kamu menghakimi,
                maka kamu pun tidak akan dihakimi.
                Dan janganlah kamu menghukum,
                maka kamu pun tidak akan dihukum;
                ampunilah dan kamu akan diampuni.
38           Berilah dan kamu akan diberi:
                 suatu takaran yang baik,
                yang dipadatkan,
                yang digoncang
                dan yang tumpah ke luar
                akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.
                Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur,
                akan diukurkan kepadamu.

Perempuan biasanya paling cepat dapat info tentang big sale dimana-mana, apa yang di ‘sale’, kapan dan syaratnya. Termasuk dimana garage sale, kapan ada ‘midnight’ sale dan barusan saya lihat di twitter ada juga ‘subuh’ sale. Tujuannya sederhana, mengharapkan bisa mendapatkan barang yang dicari – lebih sering tidak dibutuhkan dengan harga miring alias murces. Seringkali saat kita keliling di mall, tergoda untuk mampir menengok-nengok toko yang bertanda ‘Sale’ besar-besar. Ini yang kita kenal sebagai ‘impulsive buying’ – metode belanja yang tiba-tiba muncul, dan selama uang ada – apalagi ada kartu kredit, terlampiaskanlah keinginan belanja itu. Tapi bisa jadi godaan ini menjadi pisau bermata dua, akhir bulan kita pusing memikirkan bagaimana membayar tagihan kartu kredit, apalagi mengisi tabungan.
Disisi lain kita lebih gengsi kalau mendapatkan hadiah yang kita tahu ‘mahal’, tetapi bukan barang ‘sale’, juga bukan barang second. Kita merasa disepelekan begitu tahu bahwa hadiah tersebut bernilai ‘murahan’ walaupun untuk mencarinya diperlukan kerja keras juga seperti layaknya kita berebut barang ‘sale’. Kita bisa bercerita dengan bangga bahwa pasangan kita menghadiahi kita barang ‘mahal’, bukan barang murahan. Mungkin saya salah, tapi sebagian teman setuju bila dikatakan inilah paradoks perempuan : suka membeli barang murah, tapi tidak suka diberi barang murahan.
Kita sering bertindak secara paradoks  juga. Sering kita jual murah pada orang lain, tapi jual mahal pada orang-orang terdekat kita. Kita sering murah hati pada orang-orang yang baru kita kenal, atau kawan yang jarang ditemui, hanya sekedar untuk memberi kesan ramah, murah senyum dan suka menolong. Tetapi kalau kita mau jujur, apakah kita juga murah hati kepada orang-orang yang setiap hari kita jumpai? Para karyawan di kantor, pembantu rumah tangga bahkan anak-anak dan pasangan kita? Kita tidak perlu menutup-nutupi dengan berbagai cara karena mereka sendiri melihat apakah kita melakukannya dengan tulus, tanpa tedeng aling-aling. Murah hati dengan tidak serta merta menghakimi dan mudah menghukum, hanya karena kita atasan mereka, orang tua yang memiliki kuasa atas anak-anak, atau serta merta ingin menunjukkan lebih berkuasa atas pasangan kita.
Murah hati juga berarti mudah memaafkan, memberi harapan senantiasa dan percaya bahwa dengan perhatian dan kasih maka seseorang akan menjadi lebih baik. Semoga kita mau belajar untuk senantiasa murah hati, murah senyum, murah pujian bukan hanya bagi orang-orang yang baru kita kenal, tapi juga bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih kita.
Ditulis oleh Ratna Ariani


Mengapa surat-surat kabar penuh dengan berita korupsi, penyelewengan, penipuan. dan sebagainya? Sebab banyak orang yang berkedudukan tinggi dalam pemerintahan tidak tahu satu hal yang paling dasariah, yaitu : Berilah, dan kamu akan diberi. ...Mereka justru "mengambil" sebanyak-banyaknya, lalu menggunakannya untuk membangun rumah ketiga, membeli mobil tambahan, padahal begitu banyak orang tidak punya rumah; kendaraan mereka hanyalah sepeda butut.
Yesus tidak pernah memikirkan rumah baru atau pun kendaraan untuk berkeliling Tanah Suci. la pasti tidak mengincar pula rumah-rumah makan yang paling lezat hidangannya. Mengapa? Sebab la ingin bermurah hati seperti Bapa-Nya murah hati juga. Artinya: la hidup untuk memberi bukan untuk diberi. la tidak memikirkan diri-Nya sebab la tahu bahwa kalau la berbuat demikian, la tidak akan memikirkan orang lain. la seorang pemimpin sejati.
Secara resmi Yesus bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Namun, masyarakat berbondong-bondong datang kepada-Nya. Mengapa? Sebab manusia lain adalah segala-galanya bagi Yesus, baik hidup fisik, maupun - dan terutama - hidup spiritualnya. Maka la mengajar hingga ke pelosok-pelosok. la tidak menuntut bayaran. la tahu bahwa sebagai pemimpin la harus menghabiskan diri-Nya seperti lilin yang bemyala hingga tak punya bahan lagi untuk dibakar. Justru karena demikianlah hati-Nya, maka la dengan sepenuh hati siap mati demi segenap umat manusia. Pada-Nya terbukti bahwa yang memberi paling banyak, diberi pula paling banyak. Sebab la dibangkitkan, naik ke surga, duduk di sebelah Allah Bapa. Di surga pun pikiran-Nya selalu terpusat pada manusia untuk memberi, memberi, memberi.
Aku hidup untuk memberi atau diberi ?
Ditulis oleh Peter Suriadi

Percakapan dengan Perempuan Samaria



Carracci - The Samaritan Woman at the Well

Located in the Catacomb of Via Latina outside Rome this painting is linked with the Biblical scripture John 4:1-42. There are a great many versions, however this one is an oil on canvas painted by Italian artist Annibale Carracci around 1593 CE. (http://artsmasterpiece.blogspot.com/2010_10_01_archive.html)


Yohanes 4 : 5 - 42


5              Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria,
                yang bernama Sikhar
                dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
6              Di situ terdapat sumur Yakub.
                Yesus sangat letih oleh perjalanan,
                karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu.
                Hari kira-kira pukul dua belas.
7              Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.
                Kata Yesus kepadanya:
                                "Berilah Aku minum."
8              Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9              Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya:
                                "Masakan Engkau,
                                seorang Yahudi, minta minum kepadaku,
                                seorang Samaria?"
                (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10           Jawab Yesus kepadanya:
                                "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah
                                dan siapakah Dia yang berkata kepadamu:
                                Berilah Aku minum!
                                niscaya engkau telah meminta kepada-Nya
                                dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
11           Kata perempuan itu kepada-Nya:
                                "Tuhan,
                                Engkau tidak punya timba
                                dan sumur ini amat dalam;
                                dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12                           Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub,
                                yang memberikan sumur ini kepada kami
                                dan yang telah minum sendiri dari dalamnya,
                                ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
13           Jawab Yesus kepadanya:
                                "Barangsiapa minum air ini,
                                ia akan haus lagi,
14                           tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya,
                                ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.
                                Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya,
                                akan menjadi mata air di dalam dirinya,
                                yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
15           Kata perempuan itu kepada-Nya:
                                "Tuhan, berikanlah aku air itu,
                                supaya aku tidak haus
                                dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
16           Kata Yesus kepadanya:
                                "Pergilah,
                                panggillah suamimu
                                dan datang ke sini."
17           Kata perempuan itu:
                                "Aku tidak mempunyai suami."
                Kata Yesus kepadanya:
                                "Tepat katamu,
                                bahwa engkau tidak mempunyai suami,
18                           sebab engkau sudah mempunyai lima suami
                                dan yang ada sekarang padamu,
                                bukanlah suamimu.
                                Dalam hal ini engkau berkata benar."
19           Kata perempuan itu kepada-Nya:
                                "Tuhan,
                                nyata sekarang padaku,
                                bahwa Engkau seorang nabi.
20                           Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini,
                                tetapi kamu katakan,
                                bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
21           Kata Yesus kepadanya:
                                "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan,
                                saatnya akan tiba,
                                bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini
                                dan bukan juga di Yerusalem.
22                           Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal,
                                kami menyembah apa yang kami kenal,
                                sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23                           Tetapi saatnya akan datang
                                dan sudah tiba sekarang,
                                bahwa penyembah-penyembah benar
                                akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran;
                                sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24                           Allah itu Roh
                                dan barangsiapa menyembah Dia,
                                harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
25           Jawab perempuan itu kepada-Nya:
                                "Aku tahu,
                                bahwa Mesias akan datang,
                                yang disebut juga Kristus;
                                apabila Ia datang,
                                Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
26           Kata Yesus kepadanya:
                                "Akulah Dia,
                                yang sedang berkata-kata dengan engkau."
27           Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya
                dan mereka heran,
                bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.
                Tetapi tidak seorang pun yang berkata:
                                "Apa yang Engkau kehendaki?
                                Atau:
                                 Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?"
28           Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ
                lalu pergi ke kota
                dan berkata kepada orang-orang yang di situ:
29                           "Mari, lihat!
                                Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku
                                segala sesuatu yang telah kuperbuat.
                                Mungkinkah Dia Kristus itu?"
30           Maka mereka pun pergi ke luar kota
                lalu datang kepada Yesus.
31           Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia,
                katanya:
                                "Rabi, makanlah."
32           Akan tetapi Ia berkata kepada mereka:
                                "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal."
33           Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain:
                                "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya
                                 untuk dimakan?"
34           Kata Yesus kepada mereka:
                                "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
                                dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
35                           Bukankah kamu mengatakan:
                                Empat bulan lagi tibalah musim menuai?
                                Tetapi Aku berkata kepadamu:
                                Lihatlah sekelilingmu
                                dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning
                               dan matang untuk dituai.
36                           Sekarang juga penuai telah menerima upahnya
                                dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal,
                                sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.
37                           Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa:
                                Yang seorang menabur dan yang lain menuai.
38                           Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan;
                                orang-orang lain berusaha
                                dan kamu datang memetik hasil usaha mereka."
39           Dan banyak orang Samaria dari kota itu
                telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu,
                yang bersaksi:
                                "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."
40           Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus,
                mereka meminta kepada-Nya,
                supaya Ia tinggal pada mereka;
                dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya.
41           Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya,
42           dan mereka berkata kepada perempuan itu:
                                "Kami percaya,
                                tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan,
                                sebab kami sendiri telah mendengar Dia
                                dan kami tahu,
                                bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."



Satu hari dalam perjalanannya menuju Galilea, Yesus singgah melepas lelah di dekat sebuah sumur di daerah Samaria. Di situ ia bertemu dengan seorang perempuan yang datang hendak menimba air. Terjadi percakapan di antara mereka. Lambat laun perempuan itu mengenali Yesus sebagai nabi dan sebagai Mesias yang kedatangannya ditunggu-tunggu orang sejak lama. Perempuan itu kemudian mengajak orang-orang sekota ikut menemui sang tokoh dan mereka pun menjadi percaya. Begitulah ringkasan isi Yoh 4:5-42 yang dibacakan pada Minggu III Prapaskah tahun A ini. Jalan ceritanya sederhana, tapi kaya akan makna bagi orang zaman sekarang pula.

Pada akhir tulisan ini akan ditunjukkan pula bagaimana Injil ini dapat dipakai membaca kembali peristiwa umat mempertengkarkan kehadiran ilahi yang diceritakan dalam Kel 17:3-7.

MENGUBAH CARA PANDANG

Wilayah Israel dulu terbagi tiga daerah, yakni Yudea (Yerusalem) di selatan, Galilea (Nazaret) di utara, dan di antara kedua wilayah ini terletak Samaria. Orang Yudea dan orang Galilea merasa diri orang Yahudi tulen walau sikap keagamaan masing-masing agak berbeda. Orang Yudea, khususnya yang di Yerusalem, beranggapan diri mereka lebih patuh beragama daripada orang Galilea yang biasanya lebih bebas sikapnya. Tetapi baik orang Yudea maupun orang Galilea umumnya menganggap orang Samaria sesat karena mereka hanya mengakui Kelima Kitab Musa (Pentateukh) sebagai Kitab Suci mereka. Orang Samaria juga dianggap bukan Yahudi tulen karena tercampur dengan orang-orang dari wilayah jajahan Asiria dulu. Ada sikap saling tak menyukai antara orang Yahudi (baik Yudea maupun Galilea) dan orang Samaria.  Dalam Yoh 4:9 dikatakan perempuan Samaria itu heran, masakan seorang Yahudi minta minum kepadanya, orang Samaria. Dan Injil menyisipkan penjelasan "Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria."

Perjumpaan dengan perempuan Samaria itu ditampilkan Injil Yohanes dalam bagian yang menunjukkan bagaimana kehadiran Yesus membawakan kegembiraan (bandingkan Yoh 2:1-11 pesta di Kana diselamatkan) dan membuat orang berpikir mengenai ibadat yang kelihatannya beres, tapi morat-marit di dalamnya (lihat Yoh 2:13-25 pembersihan Bait Allah). Setelah itu ada percakapan dengan Nikodemus (Yoh 3:1-10) mengenai perlunya "lahir kembali" untuk mengawali hidup batin bebas dari praanggapan-praanggapan saleh yang tidak menjamin hidup abadi. Percakapan dengan perempuan Samaria kali ini (Yoh 4:4-42) merangkum dua gagasan yang ditampilkan tadi, yakni bagaimana mencapai hidup abadi dan menyembah Yang Ilahi setulus-tulusnya.

Murid-murid Yesus heran (ay. 27) melihat guru mereka bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tidak dikatakan murid-murid itu heran guru mereka bergaul dengan orang Samaria. Murid-murid ini sudah mengatasi perbedaan suku dan agama dan wilayah, namun mereka belum lepas dari anggapan bahwa tak pantas seorang perempuan berbicara langsung dengan seorang guru mengenai soal-soal batin. Samar-samar Injil memberi kesan mereka akhirnya berubah pendapat mengenai kaum perempuan.

Dalam masyarakat Samaria, kaum perempuan cukup setara kedudukannya dengan kaum lelaki. Karena itu nanti perempuan Samaria tadi dapat membawa orang-orang kota Sikhar - tentunya kaum bapak terhormat - untuk datang menemui Yesus. Latar belakang ini membuat kita melihat betapa perjumpaan dengan Yesus yang ada dalam perjalanan itu berhasil mengubah sikap-sikap yang biasanya tidak lagi dipertanyakan. Perempuan Samaria itu berubah dari curiga menjadi beperhatian dan melihat Yesus sebagai nabi (ay. 19) dan bahkan Mesias (ay. 25-26). Ia kemudian malah mengajak orang-orang sekota menemuinya. Juga orang-orang Samaria yang lain berubah sikap dari hanya sekedar ingin tahu menjadi tulus dan ramah dan meminta Yesus - tentunya bersama murid-muridnya - tinggal di tempat mereka (ay. 39-42).

"KIRA-KIRA PUKUL DUABELAS"

Perempuan Samaria tadi datang ke sumur "kira-kira pada pukul dua belas" (ay. 6). Ini tak lazim. Biasanya orang tidak menimba air pada tengah hari. Boleh jadi perempuan tadi merasa kurang enak bertemu para perempuan lain. Memang kehidupan pribadinya tidak bisa dibanggakan, juga di masyarakat Samaria sendiri.

Suatu ketika dalam percakapan dengan perempuan Samaria tadi, Yesus memintanya memanggil datang suaminya. Tetapi perempuan itu menjawab ia tidak memiliki suami. Yesus membenarkan sambil menambahkan bahwa perempuan itu pernah bersuami sampai lima kali dan bahkan yang sekarang hidup bersama dengannya bukanlah suaminya. Percakapan mengenai kehidupan pribadi perempuan itu (ay. 16-18) merangkaikan pokok pembicaraan mengenai "air hidup" (ay. 7-15) dan "menyembah Bapa dalam Roh dan Kebenaran" (ay. 9-26).

Keadaan hidup pribadi yang tidak ideal bukan halangan untuk bertemu dengan Dia yang sedang berjalan lewat Samaria tadi dan menerima kekayaan batin dariNya. Juga tidak menjadi halangan bagi perempuan tadi untuk mengajak orang-orang sekotanya berbagi kekayaan rohani yang baru ini. Yesus bukan tokoh yang mengadili. Ia datang untuk memperkaya kehidupan batin sehingga orang mengenal Tuhan sebagai Bapa.

AIR YANG HIDUP

Dalam bagian pertama percakapan tadi (ay. 7-15) Yesus menyebut-nyebut "air yang hidup" yang bisa diberikannya kepada perempuan Samaria tadi. Dan air yang hidup itu tidak bakal membuat orang haus lagi. Yang meminumnya akan menemukan dalam batinnya mata air yang memancarkan air tak henti-hentinya sampai ke hidup abadi. Apa maksudnya? Dalam bahasa sehari-hari di sana dulu, "air hidup" ialah air yang mengalir, seperti air sungai atau air yang keluar dari sumber air, bukan air yang mandek seperti air yang tertampung dalam sumur.

Yesus - sumber air hidup - meminta minum dari perempuan Samaria yang datang hendak menimba air sumur yang bukan air mengalir - bukan air hidup. Meskipun Yesus menjelaskan arti rohani air hidup, perempuan tadi tidak langsung menangkap. Bisa jadi ia malah mengira Yesus berbicara mengenai tempat yang ada sumber air yang mengalir. Maka perempuan itu mau tahu di mana sehingga tak usah lagi datang ke sumur itu (ay. 15) sehingga tak perlu datang pada waktu sumur itu sepi. Ini sisi humor dalam dialog tadi. Hanya setelah pembicaraan berbelok menyangkut kehidupan pribadinya, barulah perempuan tadi sadar apa maksud Yesus.

DALAM ROH DAN KEBENARAN

Bagian kedua percakapan itu (ay. 19-26) berkisar pada tempat ibadat orang Samaria, yakni di-"gunung" ini, maksudnya gunung Gerizim, tempat pemujaan mereka. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sesat karena ada anggapan tempat ibadat yang benar ialah Yerusalem. Perempuan tadi juga tahu hal itu (ay. 20). Tetapi Yesus mengatakan (ay. 21) bahwa akan tiba saatnya orang akan menyembah Bapa bukan di gunung itu dan bukan juga di Yerusalem. Tidak dikatakan di mana. Tapi yang dimaksudkannya jelas, yaitu di dalam dirinya. Lebih jelas lagi, Yesus menolak anggapan teologis yang waktu itu dikenakan orang Yahudi kepada orang Samaria. Mereka dianggap menyembah yang tak mereka kenal, sedangkan orang Yahudi sendiri menganggap diri mereka sajalah yang benar. Mereka mau memonopoli keselamatan (ay. 22). Yesus menegaskan, bukan hanya akan datang saatnya, melainkan sudah tiba saatnya orang menyembah Bapa dalam "roh dan kebenaran" - tidak terikat pada tempat yang membuat kehadiranNya terkurung. Itulah cara menyembah Bapa yang mendapat perkenanNya (ay. 23).

"Dalam roh dan kebenaran", maksudnya membiarkan dituntun oleh daya yang datang dari atas sana, yang betul-betul dapat memberi kelegaan, yang dapat menuntun ke hidup abadi. Dan perempuan tadi bukannya tidak tahu. Ia pernah mendengar bahwa Mesias akan datang untuk memberitakan semua itu (ay. 25). Yesus mengatakan bahwa Mesias yang dimaksud ialah dirinya yang saat itu sedang berbicara dengannya (ay. 26). Saat itulah perempuan tadi mulai mengerti dan segera pergi mengabarkan kepada orang-orang sekota untuk datang menemui Yesus (ay. 28) Dikatakan perempuan itu meninggalkan tempayannya - ia lupa akan tujuan semula pergi ke sumur. Ia mendapatkan sesuatu yang tak terduga-duga sebelumnya yang jauh lebih berharga. Dan inilah yang dikabarkannya kepada orang-orang sekota.

MAKNA

Baik pembaca dari zaman dulu maupun dari zaman sekarang sama-sama diajak menyadari bahwa Tuhan tetap mendatangi manusia, meskipun kekaburan mata batin kita sering membuat sosoknya kurang jelas dan suaranya terdengar lirih oleh telinga batin yang belum peka. Namun Tuhan membantu, kadang-kadang dengan menyapa kehidupan pribadi kita yang sering menjadi beban yang hanya bisa ditanggung. Baru di situ kita akan menyadari bahwa ada kekuatan dari atas yang mendekati dan memerdekakan.

Pembaca Injil Yohanes diajak memakai percakapan seperti itu untuk membaca kehidupan ini. Halangan-halangan sosial dan moral juga tidak lagi dibiarkan membuat kehidupan rohani macet. Juga sisi-sisi gelap masing-masing tidak usah lagi menjauhkan orang dari sumber air hidup yang menjadi bekal perjalanan ke hidup abadi. Orang diajak melihat terangnya sabda ilahi, dan tak usah murung, malu, terintimidasi oleh sisi-sisi gelap kehidupan ini yang toh tidak bisa diatasi dengan kekuatan sendiri.

Bagaimana Injil ini dapat dipakai membaca kembali peristiwa umat mempertengkarkan kehadiran ilahi yang diceritakan dalam Kel 17:3-7? Umat yang sedang berjalan di padang gurun itu kehausan dan mendambakan "air" agar bisa terus "hidup". Ada perkara yang lebih dalam. Teks Keluaran itu mengisahkan bagaimana kehidupan yang sulit di padang gurun memang membuat orang sulit percaya bahwa Yang Ilahi tetap melindungi. Dan umat waktu itu memang tidak percaya lagi. Umat di padang gurun waktu itu ingin menemui Yang Ilahi dalam ukuran-ukuran mereka sendiri, dalam cara-cara yang mengenakkan diri mereka. Dan bukan dalam cara yang ditawarkanNya sendiri. Ini amat berbeda dengan yang terjadi pada perempuan Samaria dan orang sekotanya. Seperti diulas di atas, lambat laun perempuan yang tadinya terhalang macam-macam hal (sikap permusuhan orang Samaria terhadap orang Yahudi, kehidupan pribadi perempuan itu sendiri) berhasil mengerti dan yakin bahwa sang tokoh ini ialah Mesias. Malah orang-orang sekota akhirnya dibawanya menjadi percaya.

Salam hangat,
A. Gianto

ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ

Jumat, 18 Maret 2011

Garam Dunia dan Terang Dunia

Matius 5:13-16


13             Kamu adalah garam dunia.
                Jika garam itu menjadi tawar,
                dengan apakah ia diasinkan?
                Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
14             Kamu adalah terang dunia.
                Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
15             Lagipula orang tidak menyalakan pelita
                lalu meletakkannya di bawah gantang,
                melainkan di atas kaki dian
                sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.
16             Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
                supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik
                dan memuliakan Bapamu yang di sorga.


GARAM DAN TERANG DI MASYARAKAT

Ditegaskan dalam bacaan Injil Minggu V tahun A kali ini, Mat 5:13-16, bahwa para murid ialah "garam" dan "terang" bagi dunia. Pernyataan ini kerap mendorong agar orang berusaha sekuat tenaga menggarami dunia serta meneranginya. Dunia ini seakan-akan tempat yang hambar dan gelap belaka dan karena itu perlu diselamatkan. Itukah yang hendak diajarkan kepada para murid? Injil sebenarnya mengajarkan hal lain, yakni agar para murid tidak membiarkan diri luntur identitasnya dan bakal didiamkan orang. Bagaimana penjelasannya? Marilah kita ikuti pembicaraan mengenai garam dan terang sebelum memasuki teks Injil.


CHRIS :   Kita ini sering berpanjang-panjang bicara tentang garam dan terang, bagaimana sih menerapkannya bagi orang sekarang, lebih-lebih bagi umat paroki sini.
MATT :    Romo, di paroki sini atau di Vatikan garam sama-sama mengurangi rasa hambar. Omong-omong, ini nih Paulus bilang kepada umat Kolose (Kol 4:5-6): "Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang." Latinnya ay. 6 terasa gurih: "Sermo vester semper in gratia sale sit conditus...."
CHRIS :   Jadi bagi Paulus kata-kata yang bijak penuh kasih itu seperti makanan yang gurih diresapi garam!
MATT :    Nah, tidak berputar-putar kan? Paulus menolong kita mengerti bahwa garam itu membuat orang bisa membawakan diri. Maklum orang perlu bergaul dengan "orang-orang luar", bukan hanya kalangan sendiri. Kolose itu pusat perdagangan dan industri wol zaman itu, kayak daerah industri Tangerang dan Bekasi yang menyerap tenaga kerja dari mana-mana. Para manajer di Kolose banyak yang sudah jadi umat; mereka itulah yang disurati Paulus.
CHRIS :   Apa hidup sebagai terang dunia juga bisa dipandang dengan cara itu?
MATT :    Terang menyingkirkan gelap, membuat pikiran bisa memilah-milah, membuat orang ber-discernment, tahu jalan yang benar, menjauhi cara-cara yang asal saja.
CHRIS :   Jadinya ingat Kol 1:12. Paulus bersyukur dengan penuh sukacita kepada Bapa yang telah membuat kaum beriman di Kolose layak mendapat bagian di dalam kehidupan "orang-orang kudus dalam terang". Jadi hidup dalam kekudusan walau masih berpijak di bumi.
MATT :    Pikirannya begini. Para murid sudah dilepaskan dari kuasa kegelapan - seperti dimaksud Paulus dalam ayat berikutnya. Mereka hidup dalam alam yang sudah dibuka oleh Yesus.
CHRIS :   Maksudnya merdeka dari kekuatan-kekuatan yang mengungkung, meski masih di dunia ini? Dan kita musti kreatif, tidak hambar dan kabur?
MATT :   Akur!


MENYIMAK  Mat 5:13-16
Murid-murid disebut "Kamulah garam dunia...!" (ay. 13a). Bukannya diserukan agar mereka "menjadi" garam. Yang dimaksud ialah agar mereka tetap sebagai garam. Perkaranya, bagaimana bila dayanya hilang dan jadi hambar (ay. 13b)? Ini terjadi bila murid kehilangan identitasnya. Garam yang hambar tak berguna, bakal dibuang, diinjak-injak (ay. 13c). Murid yang tak bisa ikut membuat dunia ini makin awet dan enak didiami dengan sendirinya tidak menyumbang banyak. Sayang!

Para murid juga dibaratkan sebagai "terang dunia" (ay. 14a). Menyusul dua contoh. Pertama, kota di atas gunung tentu saja terlihat dari mana-mana (ay. 14b). Murid-murid tak bisa menutup-nutupi diri, tak bisa bersembunyi. Cara hidup mereka pasti terlihat, tak peduli apakah orang akan mendatanginya sebagai tempat berlindung atau malah sebagai sasaran kedengkian. Bagaimanapun juga, yang melihatnya tidak bakal hanya mendiamkannya. Contoh selanjutnya makin jelas. Lampu menerangi seluruh ruang karena memang dipasang di atas, tidak ditutup dengan tempayan (ay. 15). Para murid memang ada di tempat yang memungkinkan mereka menerangi seluruh ruang. Hidup sebagai murid bukan urusan kesempurnaan pribadi, melainkan hidup menerangi lingkungan. Lebih tajam lagi ay. 16. Mereka hendaknya bersinar bagi semua orang sehingga perbuatan baik mereka dilihat dan orang-orang akan "memuliakan Bapamu yang ada di surga".

PENGAJARAN YESUS DI BUKIT
Bacaan dari Mat 5:13-17 diangkat dari kumpulan ajaran Yesus yang pertama dalam Injil Matius, yaitu Mat 5-7. (Ada empat kumpulan lain, yakni Mat 10; 13; 18; 24-25.) Pada awal kumpulan pertama disebutkan, ketika melihat orang banyak, Yesus naik ke sebuah bukit dan mulai mengajar para murid yang datang kepadanya (Mat 5:1-2; lihat juga ulasan bagi hari Minggu IV yang lalu). Di situ ia mengucapkan delapan Sabda Bahagia (ay. 3-10) yang bersangkutan dengan kehidupan pada umumnya, ("Berbahagialah orang yang...!"). Sabda Bahagia yang ke delapan (ay. 10) menyebut berbahagia orang yang mengalami perlakuan buruk, dianiaya, karena mau melakukan kehendak Allah. Isi Sabda Bahagia ke sembilan, ay. 11, sama dengan yang ada dalam ay. 10 tadi, tetapi ditujukan langsung kepada para murid ("Berbahagialah kamu...!) yang mengikutinya ke bukit tadi. Mulai saat itu Yesus mulai berbicara mengenai kehidupan para murid sendiri. 

Ada tiga hal yang boleh dicatat. Pertama, pembicaraan mengenai garam dan terang dunia itu menyangkut diri para murid sendiri. Kedua, konteksnya ialah pengalaman orang yang merasa dimusuhi karena melakukan kehendak Allah (ay. 10), dicela dan diperlakukan buruk karena Yesus (ay. 11). Ketiga, walaupun demikian, mereka diharapkan tetap bersuka cita dan bergembira (ay. 12), dalam bahasa sekarang, tidak kehilangan harga diri. Dalam konteks inilah pengajaran mengenai garam dan terang tampil sebagai pengajaran mengenai hidup para murid. Mereka diminta agar tetap berlaku sebagai garam dan terang kendati mereka dimusuhi. Mereka diharapkan berteguh dalam kesulitan. Inilah yang bakal membuat mereka ikut disebut "berbahagia".

Di dalam masyarakat modern pelbagai macam nilai bermunculan silih berganti, segudang gagasan dipasarkan,  pelbagai keyakinan diperjualbelikan. Di hadapan semua itu orang bisa ikut arus dan akhirnya tenggelam. Acap kali ada yang memilih jalan mudah dengan menentang semua yang beredar di dunia. Itukah pengajaran bagi para murid? Garam dan terang tidak mesti berkonfrontasi dengan dunia. Peran utamanya justru membuat dunia tak gampang membusuk dan malah semarak indah dilihat, bukan mencurigai dan memusuhinya.

DI MASYARAKAT YANG BERLAPIS-LAPIS
Dalam konteks pengajaran di Bukit, menjadi murid jelas bukan ditujukan bagi keselamatan sendiri atau demi keluhuran sang guru, melainkan agar orang banyak bisa melihat betapa Yang Mahakuasa yang di surga itu bisa dialami sebagai yang sebagai Bapa yang Maharahim. Perbuatan baik para murid menjadi jalan bagi Yang Mahakuasa agar terlihat oleh orang banyak sebagai Bapa!

Bisakah orang tetap menjadi garam dan terang di dalam masyarakat majemuk dan yang rumit susunannya seperti masyarakat zaman ini? Orang tak bisa tinggal hanya di dalam kelompok sendiri. Mau tak mau akan ikut berperan di dalam macam-macam tataran lain. Bisakah orang tetap punya identitas? Ya. Sekali ditaburkan, garam memberi rasa pada sayur. Begitu pula terang menyinari seluruh ruangan, tidak terbatas di satu sudut saja. Bila ada tempat yang tidak kena terang atau tidak tergarami, itu karena ada penghalangnya. Dalam masyarakat yang berlapis-lapis, para murid tidak hanya menggarami kelompok sendiri atau menerangi lingkungan terbatas. Yang terjadi pada satu tataran akan ada kelanjutannya di lapis lain pula. Katakan saja "garam dan terang dunia" itu membola dunia. Bila hanya setempat-setempat saja, maka hidup sebagai garam dan terang "bagi dunia" itu hanya tetap wacana belaka. Di era yang makin mengalami globalisasi ini, makin besar pula peran garam dan terang tadi. Yang tidak menjalankannya akan menjauhi kenyataan dan menjadi hambar, ambles, padam, tak masuk hitungan.

Hidup sebagai garam bukan berarti terjun mengasinkan orang-orang lain dengan menonjolkan ibadat serta rumus-rumus kepercayaan sendiri. Itu justru arah yang semakin ke diri sendiri, makin sungsang. Garam itu meluas, tidak menciut. Hidup sebagai terang berpusar ke luar, tidak berputar ke dalam. Maka usaha mendapat pengikut sebanyak-banyaknya ala kegiatan proselitisme bukan tafsiran garam dan terang dunia yang bisa dipertanggungjawabkan. Lalu apa?

Sekali lagi Mat 5:16 dapat dipakai sebagai pegangan. Para murid diminta agar melakukan perbuatan yang bakal membuat orang-orang bisa memuliakan Bapa yang ada di surga. Maksudnya ialah agar perbuatan dan tingkah laku para murid itu menjadi bentuk kehadiran Bapa di dunia ini. Kehadiran seperti ini tidak dapat dipaksa-paksakan kepada orang banyak. Hanya bisa dipersaksikan. Dan itu tidak selalu mudah dimengerti. Kerap kali sikap kurang menerima dan memusuhi berawal dari kurang mengenali apa yang sedang terjadi. Maka tindakan yang paling bijak ialah membuat agar didengar dan dikenal terlebih dulu secara apa adanya. Makin berlapis-lapis sebuah masyarakat, makin perlu identitas masing-masing kelompok tampil dengan jujur. Tanpa integritas, dengan mudah terjadi saling kecurigaan mengenai itikad baik masing-masing dan kesetujuan-kesetujuan bersama susah tercapai. Memang keragaman dapat mengakibatkan sikap apatis, luntur, ngikut aje,  pindah-pindah. Tetapi justru garam dan terang bagi dunia itu akan menghilangkan rasa hambar dan mengendalikan kesimpangsiuran.

Salam hangat,
A. Gianto

Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ