Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. (Yoh 1:1-5)

Jumat, 18 Maret 2011

Perumpamaan Tentang Hakim yang Tak Benar

Lukas 18:1-8


1              Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan,
                bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2              Kata-Nya:
                                "Dalam sebuah kota ada seorang hakim
                                yang tidak takut akan Allah
                                dan tidak menghormati seorang pun.
3                              Dan di kota itu ada seorang janda
                                yang selalu datang kepada hakim itu
                                dan berkata:
                                Belalah hakku terhadap lawanku.
4                              Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak.
                                Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya:
                                Walaupun aku tidak takut akan Allah
                                dan tidak menghormati seorang pun,
5                              namun karena janda ini menyusahkan aku,
                                baiklah aku membenarkan dia,
                                supaya jangan terus saja ia datang
                                dan akhirnya menyerang aku."
6              Kata Tuhan:
                                "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
7                              Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya
                                yang siang malam berseru kepada-Nya?
                                Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
8                              Aku berkata kepadamu:
                                Ia akan segera membenarkan mereka.
                                Akan tetapi,
                                jika Anak Manusia itu datang,
                                adakah Ia mendapati iman di bumi?"


Di dalam Luk 18:1-8 disampaikan sebuah perumpamaan sebagai bahan pemikiran bagi para murid mengapa dan dalam arti apa perlu "selalu" dan "tanpa jemu-jemu"-nya berdoa. Perumpamaan ini berbicara mengenai seorang hakim yang "tak takut akan Allah dan tak menghormati siapapun" tetapi yang akhirnya bersedia memenuhi permohonan seorang janda agar perkara janda itu dibela olehnya. Hal itu dilakukannya agar tidak lagi terganggu oleh permintaan yang terus-menerus dari pihak janda tadi (ayat 1-5). Murid-murid diminta memikirkan yang dikatakan hakim yang tak adil itu (ayat 6 "Perhatikanlah...!" merujuk ke ayat 5). Kemudian ditegaskan, bila hakim seperti itu saja akhirnya mau mendengarkan permohonan yang terus-menerus disampaikan, apalagi Allah. Dia yang Mahamurah itu tentunya akan membela orang-orang yang mendekat kepadaNya - dalam bahasa Kitab Suci, orang-orang pilihanNya. Lagipula Ia tidak akan seperti membiarkan orang menunggu-nunggu, melainkan akan segera bertindak (ayat 7-8a). Jelas kiranya perumpamaan itu juga dimaksud menggambarkan kemurahan ilahi.

PERMINTAAN DALAM IMAN

Pada akhir petikan ini (ayat 8b) Yesus menambahkan, "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah ia akan mendapati iman di bumi?" Apakah maksud perkataan ini sehubungan dengan perumpamaan di atas?

Pertanyaan Yesus itu juga erat kaitannya dengan peristiwa kedatangan Kerajaan Allah yang dibicarakan dalam Luk 17:20-37 yang mendahului petikan ini. Ditandaskan di situ bahwa Kerajaan Allah datang "tanpa tanda-tanda lahiriah", maksudnya tanpa tanda-tanda yang menggetarkan. Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah manusia (Luk 17:21) dan terjadi dalam kehadiran Yesus yang membawakan warta datangnya Kerajaan Allah di tengah-tengah umat manusia. Menerima warta ini berarti percaya, mengimani bahwa Kerajaan Allah menjadi ruang hidup yang baru. Ruang hidup inilah yang membuat orang-orang yang berlindung kepada Allah boleh merasa aman. Mereka itu menjadi orang-orang pilihanNya. Allah tidak mengulur-ulur waktu bila mereka berseru minta pertolongan. Mustahil Ia mendiamkan mereka yang siang-malam berseru kepadaNya. Sikap memohon dengan tak kenal putus asa itu ditampilkan sebagai sikap yang tumbuh dalam diri orang yang beriman. Bila dipadukan dengan keinginan untuk ikut serta dalam warta dibawakan Yesus sang Anak Manusia yang diutus Allah itu, maka doa ini amat besar kekuatannya. Seperti dalam Perjanjian Lama, Allah melihat penderitaan umatNya yang berseru kepadaNya dan Ia turun untuk memimpin mereka keluar dari penderitaan mereka (bdk. Kel 3:7-10; 6:5-7).

AJARAN AGAR TETAP MEMOHON?

Mengapa Yesus menegaskan perlunya berdoa tanpa jemu-jemu? Bukankah para murid sudah tahu? Bukankah mereka juga sudah cukup yakin bahwa Allah tidak akan melalaikan orang yang berseru kepadaNya? Perumpamaan ini sebaiknya juga didalami dengan cara yang mirip dengan yang dipakai dalam memahami kata-kata Yesus dalam Luk 17:6 yang menanggapi permintaan para murid agar iman mereka ditambah. Para murid sudah tahu bahwa iman itu memiliki kekuatan, justru karena itulah mereka minta tambahan iman. Dalam ulasan mengenai petikan itu dijelaskan bahwa Yesus sebenarnya bermaksud mengajak para murid menyadari bahwa iman bukan semata-mata kekuatan batin yang menakjubkan melainkan kesediaan menjalankan kehendak Bapa dengan penuh pengabdian seperti dilakukannya sendiri. Gagasan ini jelas dari pengajaran mengenai sikap seorang hamba dalam Luk 17:7-10. Begitu pula perumpamaan dalam Luk 18:1-8 sebaiknya dilihat bukan sebagai ajaran mengenai perlunya berdoa tanpa jemu-jemunya melainkan sebagai ajakan bagi para murid agar melandaskan doa mereka pada iman yang sesungguhnya, yakni kesiagaan serta pengabdian kepada kehendak Bapa.

Kisah kesembuhan sepuluh orang kusta Luk 17:11-19 juga dapat membantu. Dari sepuluh orang yang sembuh itu hanya orang Samaria sajalah yang kembali kepada Yesus sambil meluhurkan Allah. Ia mengenali Yesus yang sedang berjalan memenuhi kehendak Bapanya menjadikan Kerajaan Allah sebuah kenyataan di bumi ini. Orang Samaria tadi sebenarnya berbagi iman dengan Yesus sendiri. Baginya Anak Manusia yang disebut dalam Luk 18:8b telah datang dan mendapatinya penuh iman.

Bagaimana dengan kata-kata Yesus setelah mengajarkan doa Bapa Kami mengenai orang yang malam hari datang membangunkan sahabatnya dan tanpa malu-malu minta dipinjami tiga potong roti bagi tamunya (Luk 11:5-8, bdk. Mat 7:7-11)? Orang itu akhirnya dibukai pintu juga. Di situ diajarkan agar orang tanpa sungkan-sungkan memohon kepada Bapa yang ada di surga. Sikap demikian itu juga menjadi ungkapan iman.

MENARIK HIKMAT DARI KEHIDUPAN

Perumpamaan mengenai hakim yang tak adil ini mengingatkan pada perumpamaan mengenai bendahara yang tak jujur dalam Luk 16:1-9. Kedua tokoh itu ditampilkan sebagai orang yang wataknya tak lurus tapi dalam keadaan tertentu dapat menjalankan hal yang pada dirinya sendiri patut dipuji. Bendahara yang tak jujur itu dapat berlaku cerdik dan dengan demikian dapat menyelamatkan diri. Begitulah bendahara itu berhasil mengatasi keadaannya yang gawat. Anak-anak terang dapat belajar dari kesigapannya. Hakim yang akhirnya mau membela si janda dapat menjadi batu loncatan untuk mengerti kemurahan Allah. Demikianlah Yesus sang Guru itu berani memakai bahan dari kehidupan yang penuh liku-liku dan yang sering kelabu itu untuk menarik garis yang lurus dan terang. Tokoh-tokoh kompleks itu ada dalam kehidupan nyata. Kebijaksanaan seorang Guru seperti Yesus itu terletak dalam kemampuannya melihat sisi yang membawa orang dapat maju ke depan, bukan yang membuat orang menyerah dan putus harapan. Tersirat di dalam perumpamaan-perumpamaan itu ajakan untuk belajar menarik hikmat dari kenyataan hidup sehari-hari. Sekaligus diajarkan agar murid-murid tidak membiasakan diri berpikir dalam arah-arah yang sudah mapan belaka. Kebiasaan seperti itu sebenarnya hanya memberi rasa aman yang semu, bukan iman yang hidup.

MENUJU KE MASA DEPAN - DENGAN IMAN

MAR: Iman yang diharapkan ada di muka bumi bila Anak Manusia datang (Luk 18:8b)
           ialah iman yang dalam cara bicara orang zaman ini proaktif sifatnya, bukan reaktif
           atau bahkan pasif melulu.
WID:  Benar. Iman bukan semata-mata keteguhan yang muncul untuk membenarkan atau
           menyalahkannya keadaan?
MAR: Warta Injil dapat juga diperdengarkan bagi keadaan sekarang. Bagaimana sikap
           orang yang mengimani hadirnya Kerajaan Allah yang diumumkan oleh Yesus?
WID:  Tentunya ia akan berusaha melihat arah-arah yang membawa ke perkembangan.
MAR: Saya rasa, ini dapat terjadi dengan secara proaktif berbuat menurut arah-arah tadi
           tanpa membiarkan diri dikeruhkan kecemasan atau impian ini atau itu belaka.
WID:  Nah begitu kan! Usaha ini bisa membuahkan perbaikan, lagipula tak bergantung
           pada keadaan sesaat-sesaat. Ini namanya mengaktualkan warta Injil.
MAR: Jadi apa benar bila dikatakan keberanian iman itu perlu dibarengi perhitungan.
WID:  Itu justru yang mematangkan iman.
MAR: Dan nanti pihak-pihak yang tadinya tidak banyak memikirkan pun akan ikut
           memperhitungkan?
WID:  Itu baru terjadi bila appealnya ke penalaran!
MAR: ???
WID:  Ingat apa yang dikatakan "dalam hati" oleh hakim tak adil tadi (Luk 18:4) -
           dan juga oleh bendahara yang tak jujur (Luk 16:3-4)? Bila memakai perhitungan
           nalar - "dalam hati" - mereka yang tidak termasuk kaum lurus itu pun dapat
           mengatasi keterbatasan mereka sendiri.
MAR: Kok tafsirnya sedemikian realistik.
WID: Tafsir kan tak usah mengawang-awang. Masa depan juga tidak terbangun di
          awang-awang sana. Perlu dititi dengan yang nyata-nyata dijalani.

Salam hangat,

A. Gianto

Ditulis oleh Romo Agustinus Gianto, SJ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar